Fisika dan Gelombang Otak

Orang tidak menyangka bahwa penerapan MIPA khususnya fisika banyak digunakan untuk mengkaji dan merasionalisasikan secara ilmiah berbagai fenomena alam yang ada di sekitar kita, di antaranya adalah mengungkap fakta yang berkaitan dengan gelombang otak yang merupakan karunia terbesar yang telah Allah berikan kepada kita agar kita berfikir akan kebesaran-Nya.
"Otak merupakan salah satu anugerah yang di berikan Allah kepada kita, dengannya kita bisa berfikir dan mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui sebelumnya".

Suatu misal Newton telah menemukan hukum grafitasi universal dengan memikirkan apel yang jatuh dari pohonnya, dan juga Enstein yang telah menemukan Teori Relativitas setelah melakukan percobaan berkali-kali tanpa putus asa, beserta para ilmuan yang lain. Mereka menemukan sesuatu karena hasil berpikir mereka yang tiada henti setiap saat. Mereka selalu mengkaji, meneliti, mengobservasi dan lain sebagainya sehingga mampu mengungkap rahasia alam yang belum di ketahui sebelumnya.

Ketika kita berpikir, merenung, berdoa atau apa pun juga aktivitas batiniah, dalam otak kita sedang berlangsung suatu proses psikodinamika yang menghasilkan gelombang elektromagnetik. Gelombang tersebut bisa terpancar keluar, bisa menimbulkan resonansi pada orang lain. Begitu pula halnya ketika kita beribadah, seperti sholat, bila kita sholat dengan khusyu’, konsentrasi yang tinggi, maka akan tinggi pula gelombang elektromagnetiknya yang berkorelasi dengan kualitas sholat kita, penerimaan penilaian ibadah kita oleh malaikat. Dan tingkatan sholat masing-masing orang itu berbeda-beda kualitasnya, tergantung ke khusyu’an sholatnya, ada yang nilainya membubung tinggi sampai ke langit ke tujuh, namun ada juga yang karena kualitasnya rendah, disimpan saja, bagaikan kain yang dilipat (ibadahnya tetap diterima, tapi nilainya rendah) dan Allah telah menegaskan kepada kita bahwa orang yang khusyu’ dalam sholatnya akan menjadi orang yang beruntung, sebagaimana firman-Nya, QS. A-Mu’minun, (23) : 1-2 : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya”. Oleh karena itu sholat melatih kemampuan otak kita, khususnya bagaimana membangkitkan kemampuan-kemampuan khusus otak seperti alam bawah sadar atau intuisi.

SISTEM KELISTRIKAN TUBUH

Menurut para Ilmuan, bahwa tubuh manusia mengandung sistem kelistrikan. Mulai dari mekanisme otak, jantung, ginjal, paru, sistem pencernaan, sistem hormonal, otot-otot dan berbagai jaringan lainnya. Semuanya bekerja berdasar sistem kelistrikan. Karena itu kita bisa mengukur tegangan listrik di bagian tubuh mana pun yang kita mau. Semuanya ada tegangan listriknya. Bahkan setiap sel di tubuh kita memiliki tegangan antara -90 mvolt pada saat rileks sampai 40 mvott pada saat beraktifitas. Maka, tubuh kita boleh disebut sebagai sistem elektromagnetik. Sebab, kelistrikan sangat erat kaitannya dengan kemagnetan. Otak kita memiliki medan kemagnetan. Sebagaimana jantung ataupun bagian-bagian lain di tubuh kita.

Aktivitas yang terjadi di dalam otak dapat diketahui melalui perekaman otak dari permukaan luar kepala sehingga dapat ditunjukkan adanya aktivitas listrik yang terusmenerus timbul dalam otak sehingga otak kita bisa memancarkan gelombang elektromagnetik.

Dari hasil penelitian para ilmuan di katakan bahwa gelombang elektromagnetik (EM) merupakan gelombang transversal (baca : Fisika Dasar 2) dan gelombang EM selalu merupakan gelombang medan, bukan materi, seperti halnya gelombang pada air atau tali. Karena mereka terdiri atas medan, gelombang elektromagnetik dapat merambat melalui ruang hampa.


Kita dapat melihat pada analisa diatas bahwa gelombang elektromagnetik di hasilkan oleh muatan listrik yang berosilasi, dan karenanya juga mengalami percepatan [Giancolli, 1998 : 223].
Pancaran elektromagnetik itu berubah-ubah sesuai kondisi tubuh yang dipengaruhi oleh emosi. Sebagai contoh, orang yang sedang marah, tubuhnya akan ikut bergetar.

KLASIFIKASI SINYAL OTAK
Setelah di temukannya EEG (Electro Encephalo Graph), ada beberapa macam gelombang otak yang didasarkan pada tingkatan konsentrasi/focus pikiran kita sendiri atau kondisi fisik kita; Beta 14 - 22 Hertz adalah saat berpikir keras (menghitung atau saat stress) atau juga saat kita melakukan sesuatu dalam kondisi sadar (the doing action state). Alpha 8 - 13,9 Hz adalah keadaan saat otak kita relaks atau tenang, yaitu alam bawah sadar, imajinasi dan relaksasi. Tetha 4 - 7,9 Hz adalah keadaan dimana pikiran menjadi kreatif dan inspiratif atau intuisi dan Delta 0,1 - 3,9 Hz adalah keadaan otak pada saat kita tertidur lelap (deep dreamless state). Pada sat ini terjadi penyembuhan alami dan peremajaan sel-sel tubuh. (12 Self Management, Ariwibowo Prijosaksono dan Marlan Mardianto.

Yang paling kuat, adalah gelombang otak Alpha dan Tetha, namun paling susah juga untuk bisa kita bangkitkan, dibanding gelombang beta yang kita gunakan saat berpikir sehari hari. Pada saat kita berkonsentrasi, lontaran gelombang otak Alpha dan Tetha dari pikiran kita akan menyebar ke luar, sehingga menggerakkan orang lain melakukan hal yang kita harapkan. Bagaikan resonansi gelombang gitar yang bila sama getarannya, akan menimbulkan resonansi bunyi pada alat musik lainnya. Begitu pula orang yang saling jatuh cinta, pandangan mata atau bahkan text sms sekalipun bisa menimbulkan resonansi rasa kasmaran pada yang lainnya.

Hal yang sama berlaku juga antara ibu dan anak, bila seorang anak menangis, ibunya yang berada di tempat yang jauh, akan merasakan resonansi rasa gelisah dari tangisan anaknya tersebut. Berlaku pula bila kita berdoa dengan khusyu’, konsentrasi, maka doa kita akan sampai pula ke alam transedental, terdengar oleh malaikat ! Bagi seorang muslim, nilai ibadah seperti sholat, berbagai macam pula tingkatan penilaiannya. Ada yang bernilai tinggi, adapula yang bernilai rendah. Sholat yang asal asalan, rendah pula nilainya dan sholat yang khusyu’ saat yang khusus seperti sholat Tahajud saat dini hari, akan bernilai tinggi, karena kuat pancaran gelombangnya (gelombang alpha dan tetha saat sholat yang begitu khusyu’). Bernilai tinggi secara transedental, memberi dampak yang positif pula bagi mereka yang melakukannya yang akan tercermin pada perilaku se hari harinya (dampak ibadah pada perubahan positif perilaku seseorang atau meditasi pada sebagian yang lain). Contoh lain, misalnya kita pergi ke tempat keramaian seperti terminal atau mall, bila dalam otak kita telah tertanam ketakutan akan kecopetan, jambret, penodong dll, maka gelombang ketakutan tersebut akan menyebar ke luar, sampai pula ke para pencopet/penodong yang akan membuat mereka tergerak untuk melakukan kejahatan pada kita. Tapi bila sebaliknya, kita berpikiran tenang dan positif, orang-orang di tempat rawan tersebut sebagai orang-orang baik dan tak akan melakukan kejahatan pada kita, ditambah dengan zikir & do’a, maka akan tersebar gelombang otak positif, yang akan sampai pula kepada para pelaku kejahatan tersebut dan memberikan sinyal positif yang akan menutupi niat-niat jahat yang timbul pada otak mereka, sehingga kita bisa aman-aman saja bila lewat ke daerah-daerah rawan tersebut.

Lalu bagaimana caranya supaya otak kita bisa mencapai keadaan Alpha dan Theta?, disinilah mamfa’at dzikir yang bisa mengatarkan otak kita ke dalam keadaan tersebut sebagaimana yang di firmankan Allah, QS. Ara’d (13) : 28 : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. Ayat tersebut menginformasikan kepada kita bahwa fungsi dzikir adalah untuk menjadikan hati kita tenang dan dengan tenangya hati maka otak kita akan mencapai keadaan Alpha. Sedangkan otak dalam kondisi Alpha yang di hasilkan dari dzikir akan mengantarkan seseorang terasa sangat dekat dengan Allah, seakan merasakan ke hadiran Allah di hadapannya yang akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas Ruh dalam dirinya.

Sedangkan kondisi Tetha bisa di hasilkan dengan membiasakan sholat malam atau Tahajjud. Kenapa demikian? Karena bangun di waktu malam membuat bacaan (dzikir, do’a dan belajar) bisa lebih berkesan, lebih fresh, dan tentu saja lebih mudah nyantol di otak kita. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, QS. Al-Muzzammil (73) : 1-6, “1. Hai orang yang berselimut (Muhammad), 2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), 3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. 4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. 5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. 6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”.
Masih banyak contoh-contoh yang lain dari teori sains untuk bisa di jadikan pelajaran perilaku dalam bersikap dan bertindak. Tetapi tentunya Al-Qur’an lah yang menjadi pedoman dalam mengarungi kehidupan yang terbatas ini. Inilah salah satu tanda kebesaran Allah yang telah mengatur semua yang ada di alam ini dengan sangat sempurna sehingga kita bisa merasakan indahnya kehidupan ini.
(Oleh: Burhan)
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.