KHAUL DAN BERKUMPUL MAKAN-MAKAN

KATA PENGANTAR

Dengan segala keterbatasan, saya mencoba untuk menulis kembali beberapa masalah yang berhubungan dengan hukum agama terutama masalah yang berkaitan dengan khaul yang sudah menjadi tradisi mayoritas masyarakat indonesia pada umumnya dan masyarakat madura pada khususnya.

Tulisan ini saya ambil dari buku “PERINGATAN KHOL, BAGAIMANA SEBENARNYA MENURUT HUKUM ISLAM”, terdiri dari 180 halaman yang diterbitkan oleh “PUSTAKA ABD. MUIS BANGIL”, karangan Drs. Imron Abdul Manan. Buku tersebut merupakan TANGGAPAN dari buku yang sebelumnya dengan judul “PERINGATAN KHAUL BUKAN DARI AJARAN ISLAM ADALAH PENDAPAT YANG SESAT”, ditulis oleh Drs. Imron Abu Amar, penerbit “MENARA KUDUS”, dengan 9 Bagian atau Bab permasalahan yang terdiri dari 105 halaman, Tahun 1980. Buku tersebut secara tidak langsung merupakan SANGGAHAN atas buku sebelumnya “PERINGATAN KHAUL BUKAN DARI AJARAN ISLAM” oleh Drs. Imron AM dengan 13 Bagian atau Bab permasalahan hukum Agama, yang diterbitkan BINA ILMU SURABAYA, Tahun 1977, terdiri dari 180 halaman.

Oleh karena itu, saya menulis kembali beberapa permasalahan yang diambil dari buku “PERINGATAN KHOL, BAGAIMANA SEBENARNYA MENURUT HUKUM ISLAM” tanpa mengurangi atau menambah sedikitpun dari keterangan di dalamnya sehingga seakan menjadi sebuah dialog interaktif antara ke dua pendapat yang kontroversi tersebut dengan harapan pembaca lebih mudah memahami dan mengambil kesimpulan mana pendapat yang lebih kuat (benar) dan mana pendapat yang lemah serta lebih obyektif dalam mengambil sebuah kesimpulan hukum berdasar atas sumber referensi (maraji’) yang lebih kuat di antara ke dua buku tersebut.

Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, karena dengan adanya pendapat yang berbeda berarti ruang lingkup penalaran kita akan semakin luas.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Salah satu di antara beberapa bentuk acara yang terdapat di dalam upacara peringatan khaul yaitu berkumpul makan-makan dengan maksud amal shadaqoh dan atau menghormat kepada para tamu yang telah hadlir.

1. Makan-makan Ketika Terjadi Kematian
Adalah merupakan suatu kenyataan bahwa sering kali dijumpai pada saat terjadi kematian seseorang maka ahli mayit memberikan jamuan makan-makan, baik ini terjadi sebelum si mayit diberangkatkan ke kubur ataupun sesudah selesai di kubur.
Persoalan ini sering menimbulkan pembicaraan ramai di tengah-tengah masyarakat Islam antara yang pro dan yang kontra, antara yang setuju dan yang menentang.
Sebelum keputusan hukum diambil, maka baik sekali bilamana diteliti terlebih dahulu tentang latar belakang yang menyebabkan timbulmnya persoalan tersebut, antara lain sebagai berikut :
a. Kalau memang benar, bahwa harta atau uang yang dipergunakan untuk membuat makanan-makanan itu berasal dari harta atau uang yang dipaksa-paksakan, baik yang diperoleh dari usaha berhutang-hutang atau bahkan sampai berani menggunakan harta hak milik anak yatim, maka jelas hal ini dilarang oleh agama.
Kejadian yang seperti inilah yang sering dilihat oleh para shahabat pada masa lalu, sehingga dikalangan mereka (para shahabat) mengeluarkan pernyataan sebagaimana kata shahabat Jarir bin Abdullah Al-Bajally:

كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنعةالطعام بعد دفنه من النياحة (رواه أحمد وابن ماجة)

“Adalah kita (para shahabat) menganggap, bahwa berkumpul di rumah ahli mayit dan membuat makanan sesudah si mayit ditanam, itu termasuk hukum meratapi mayit.” (H.R. Ahmad dan Ibn. Majah). 103)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

103 Nampaknya anda terlalu berani dalam mengambil kesimpulan, sehingga secara berani pula, “pendapat anda sendiri” tapi anda nisbatkan sebagai pendapat para Sahabat Nabi.
Hadits itu (riwayat Jarir bin Abdullah), inti ma’nanya menerangkan, bahwa mereka (para Sahabat Nabi) sepakat, “kumpul-kumpul, makan-makan di rumah ahlil mayit sesudah menanam, adalah termasuk niyahah, yakni haram seperti haramnya niyahah (meratapi mayit)”.


Dari mana, dari kitab apa, anda dapat menyimpulkan, bahwa sebab musabab samapi diharamkan oleh para Sahabat itu lantaran mereka dalam menyelenggarakan upacara itu hasil dari hutang, memaksa-maksa diri dsb. ? Mengapa hal yang begini prinsipil, anda karang sendiri?
Perhatikanlah :

Imam Nawawi yang pentolan pengikut Madzhab Syafi’i, dalam Kitabnya, Syarah Muahdzab, antara lain mengatakan demikian :

قال صاحب الشامل وغيره : وأما اصلاح أهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شيئ ، وهو بدعة غير مستحبة ويستدل لهذا بحدث جرير ابن عبد الله ر ض قال : كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياح (روه أحمد وابن ماجه با سناد صحيح / النووي ، المجموع شرح المهذب جزء ٥ ص ٢٨٦)

“Berkatalah pengarang As Syamil dll., “adapun penyediaan makan oleh ahlil mayit serta kumpul-kumpulnya manusia untuk acara itu, maka hal itu tidak mempunyai dasar sedikitpun, dan amalan itu termasuk bid’ah yang tidak disunnatkan, dan ini berdasarkan hadis riwayat Jarir bin Abdillah ra yang berkata : kami mengnggap berkumpul di rumah ahlil mayit dan membikin makanan itu sama dengan niyahah.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah). (Lihat : Imam Nawawi, Al MAJMU’, Syarah Muhadzab V/286).


Pendapat-pendapat yang sama seperti itu terdapat dalam Kitab-kitab Fiqih Syafi’iyyah, seperti:
1. Mughnil Muhtaj, Juz I, hal. 268.
2. Hasyiyah Qalyubi, Juz I, hal. 353.
3. ‘Inatut Thalibin, juz II, hal. 145-146
4. Al UM, Imam Syafi’i, juz I, hal. 248\
5. Al Fiqhu Alal Mudzahibil Arba’ah, jus I, hal. 539.
6. Dll.

Di dalam Kitab Fiqih AL MADKHAL, karangan Ibnul Haj, antara lain disebutkan demikian :

فمابالك بمااعتاده بعضهم في هذالزمان ؟ من أن أهل الميت يعملون الطعام ثلاث ليال ويجمعون الناس عليه عكس ما حكي عن السلف رضي الله عنهم . فليحذر من فعل ذلك فإنه بدعة مكروهة (ابن الحاج المدخل : ٣/٢٧٩)

Bagaimana upayamu terhadap apa yang dibiasakan oleh sebagian mereka pada zam ini? Bahwa ahlil mayit membikin makanan sampai tiga hari lamanya dan orang-orang pun berkumpul di situ, yang bertolak belakang dengan amalan golongnan Salaf ra. Waspadalah terhadap amalan yang demikian itu, sebab amalan tersebut adalah bid‘ah yang tidak disukai”. (Ibnul Haj, Al MADKHAL, juz III, hal. 289).
Coba renungkan pada kata Ibnul Haj berikut ini :

وتلك القبائح والمفاسد موجودة في الإجتماع للثالث والسابع وتمام الشهر و تمام السنة وفي أي موضع فعل ذلك فيه من بيت أو قبر أو غيرهما كل ذلك يمنع (المد خل : ٣/٦٩٣)

“Keburukan-keburukan dan mafsadah-mafsadah itu, terdapat pada kumpul-kumpul pada hari ke tiga dan ke tujuh serta sempurnanya sebulan dan setahun, di mana pun dikerjakan amalan itu, baik di rumah ,di kuburan atau di tempat lainnya, semuanya itu adalah terlarang.”
(AL MADKHAL, juz III, hal. 293)


Mengapa anda di sana sini hanya menyebut-nyebut Ibnu Taimiyah saja ? Itu kan tidak obyektif ?

 Pendapat Drs. Imron ABA :

b. Tetapi jika makanan-makanan yang dibuat dan disuguhkan oleh ahlinya si mayit itu adalah berasal dari harta atau uang hak milik pribadi salah seorang keluarganya (anak atau saudara si mayit) yang ikhlas dikeluarkan untuk bershadaqoh maka ini dibenarkan oleh agama. Karena hal ini jelas merupakan usaha yang termasuk amal baik anak kepada orang tua atau amal baik yang dikeluarkan oleh salah seorang saudara untuk saudaranya. 104)
c. Apalagi kalau makanan-makanan yang dibuat itu bertujuan untuk menghormati kepada para tamu, baik yang diundang maupun yang tidak, maka ini oleh agama dibenarkan.

Rasulullah saw bersabda :

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فاليكرم ضيفه (رواه البخاريي ومسلم)

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia harus memuliakan tamunya (H.R. Bukhari dan Muslim)”

Dalam Hadits Nabi yang shaheh ini, jelas sekali dikatakan bahwa orang yang memuliakan tamu itu diperintahkan oleh Nabi, dengan demikian maka Islam membenarkan setiap pemeluknya melakukan bentuk amalan yang bertujuan memuliakan tamu, sebagaimana pula yang dikerjakan oleh para ahli mayit, dalam membuat makanan yang disuguhkan kepada para tamu secara bersama-sama atau berkumpul. (105)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

104 – 105. Anda tentu sependapat dengan saya, bahwa seorang insan yang paling tahu tentang Agama (baca : Islam), tentang amal saleh, tentang ridla Allah adalah yang bernama MUHAMMAD SAW.


Nabi saw dan Sahabat-sahabatnya pun tahu, seberapa besar pahala “sedekah dan menghormat tamu”, tapi toh mereka tetap memandang, bahwa kumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit itu sama hukumnya dengan niyahah yakni “haram”.
Dan kalau menghidangkan makanan itu diniatkan “sedekah” maka terjadilah “Talbisul haq bil bathil” (mencampur aduk yang haq dengan yang bathil). Sebab sedekah itu disunatkan, sedang hidangan itu sendiri “haram” menurut kesepakatan Shahabat.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

d. Satu lagi yang sering terjadi selama ini, dan sering pula orang salah penglihatanya yaitu adanya sekedar makan-makan di rumah ahli mayit yang makanan-makanan itu dibuat dengan bahan atau justru makanan yang berasal dari para tetangga yang diberikan kepada ahli mayit, kemudian dikeluarkan untuk menjamu para tamu yang hadir.
Amalan yang semacam ini (yakni membuat makanan untuk makan-makan berkumpul yang berasal dari tetangga dan terus dimasak oleh ahli mayit, kemudian dikeluarkan untuk menyuguh para tamu) adalah yang sering kali terjadi di kalangan masyarakat. Namun kadang-kadang orang salah penglihatan, karena bukti nyata, mata melihat, bahwa makanan itu dibuat (dimasak), dikeluarkan dan disuguhkan dari dan dirumahnya ahli mayit, dengan gampang memberikan keputusan, bahwa bagaimanapun makanan tersebut adalah berasal dari ahli mayit sendiri, lain tidak. Disinilah letak kekeliruan pendapat sementara orang, yang dengan kelicikan membohongi ummat agar mereka dapat pengaruh. Bukan mencari pokok permasalahan yang semestinya.


Apa yang dikerjakan ummat selama ini, yaitu makan-makan di rumah ahli mayit dengan makanan yang sebenarnya berasal dari para tetangga dan handaitaulan, adalah dibenarkan oleh ajaran Islam.

Nabi sendiri justru menganjurkan amalan yang semacam ini, sebagaimana yang diterangkan dalam Hadits :

قال عبدالله بن جعفر: لماجاء نعي جعفر حين قتلِِ , قال النبي صلى الله عليه وسلم اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد أتاهم ما يشغلهم . (رواه أحمد وأبو داود والترميذي وابن ماجه والشافعي والطبراني)

“Berkata Abdullah bin Ja’far : Ketika tersiar berita terbunuhnya, maka kemudian Nabi bersabda: ‘Hendaklah kamu membuat makanan untuk keluarga Ja’far, sebab mereka sedang ditimpa perkara yang menyusahkan.”
(H.R. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn. Majah, Syafi’i dan Tabrani).

Hadits ini dapat diambil pengertian bahwa, apabila terjadi seseorang meninggal dunia maka bagi tetangga (jiran) dianjurkan untuk memberikan makanan-makanan kepada ahli mayit yang ditinggalkan. 106)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

106. Anda sekian kali memutar balik dan mengaburkan ma’na hadis atau ayat. Hadis ini sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan kumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit.


Hadis Abdullah bi ja’far ini ma’nanya, bahwa “tatkala berita kematian Ja’far telah sampai, maka Nabi saw memerintahkan kepada kaum muslimin, agar membantu membikinkan makanan untuk keluarga Ja’far, sebab keluarga itu sedang ditimpa musibah”.
Jadi jelas hadis ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan penyelenggaraan makan-makan dirumah ahlil mayit seperti keterangan anda.
Imam Syafi’i sendiri mengambil dalil hadis itu, dalam kitabnya AL UM, antara lain beliau mengatakan demikian :

قال الشا فعي : ويستحب لجيران الميت أوذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعاما ما يشبعهم وإن ذلك سنة (الشا فعي الام ١: ٢٤٧)

“Disunatkan bagi tetangga mayit atau kerabatnya, agar membikinkan makan bagi keluarga mayit untuk keperluan sehari semalam, yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena hal itu sunnah” (As-Syafi’i, AL UM, juz 1, hal. 247).

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Dalam Hadits Nabi ini sama sekali tidak terdapat larangan bahwa makanan yang dari jiran tersebut tidak boleh dikeluarkan oleh ahli mayit guna menyuguh para tamu yang hadir. Hal ini menunjukkan bahwa makan yang dari jiran adalah boleh disuguhkan kepada tamu itu, malahan bisa jadi jiran memperoleh pahala ganda karena di samping makanannya diberikan kepada ahli mayit karena sedang ditimpa kesusahan juga makanannya itu kemudian untuk menghormati tamu. 107)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

107. Itu pendapat anda. Dan ternyata pendapat anda itu bertentangan dengan pendapat-pendapat dalam Kitab-kitab Fiqih Syafi’iyah, bahkan bertentangan dengan IJMA’ SAHABAT.
Tentang haramnya kumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit itu adalah telah menjadi ijma’ Sahabat, sebab Jarir menggunakan kaka-kata KUNNA (=KAMI), dan tidak ada seorang pun Sahabat yang menentang.
Mengapa anda dengan berbagai dalih, berani menentang ijma’ Sahabat Nabi saw ?

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Imam Syafi’i, rahimahullah berkata dalam sebuah kitabnya bahwa:

قل الشافعي: ويستحب لجيران الميت أوذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعا ما يشبعهم وإن ذلك سنة (الأم : ١ / ٢٤٧)
“Imam Syafi’i berkata : ‘dan disunnahkan bagi jiran (tetangga) atau keluarganya, agar membuat makanan untuk ahli mayit pada hari terjadi kematian dan malamnya, makanan yang mengnyangkan mereka, karena itu adalah sunnah (maksudnya amalan Nabi).’ ”
(Al-Um I/247). 108)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

108. jadi yang “sunnah” menurut Imam Syafi’i adalah membantu membikinkan makanan untuk ahlil mayit, bukannnya ahlil mayit itu yang menyelenggarakan upacara, lalu mengundang orang banyak makan-makan di rumahnya. Inilah yang tidak anda fahami, yang justru anda balik.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Berdasarkan semua penjelasan di atas itu maka masyarakat Islam akan dapat mengambil pengertian bahwa sebenarnya berkumpul makan-makan di rumah ahli mayit sebagaimana yang sering terjadi pada dasarnya adalah dibenarkan oleh ajaran Islam, karena Nabi sendiri telah jelas menganjurkan praktek amalan yang semacam itu. Malahan Imam Syafi’i menghukumi sunnah terhadap maslah ini. 109)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

109. Kesimpulan dali-dalil yang anda tampilkan adalah sbb.:
a. Hadis Jabir bin Abdillah Al-Bajalli, yang isinya merupakan ijma’ Sahabat, bahwa kumpul makan-makan di rumah ahlil mayit, hukumnya sama dengan niyahah, yakni “haram”.
b. Hadis Abdullah bin Ja’far, yang isinya, Nabi saw menganjurkan membikinkan makanan untuk ahlil mayit, yang tujuannya untuk membantu meringankan kesedihan mereka yang sedang ditimpa musibah.
c. Imam Syafi’i menganjurkan agar kaum Muslimin sudi membantu meringankan beban kesedihan ahlil mayit dengan cara membikinkan makan buat mereka sekurang-kurangnya untuk sehari semalam, dan itu “sunnah” menurut beliau.
Kemudian, mana dalil yang menunjukkan bolehnya kumpul makan-makan di rumah ahlil mayit itu?

 Pendapat Drs. Imron ABA :

2. Makan-makan dalam Upacara Khaul.

Lazimnya dalam upacara khaul seorang Wali atau Ulama dan yang lain-lain terdapat pula rangkaian acara yang berupa makan-makan di tempat khaul (di rumah ahli mayit yang dikhauli).
Dalam hal ini makanan-makanan yang disuguhkan kepada mereka yang berkumpul itu adalah umunya berasal dari tetangga atau juga dari para tamu yang hadlir dalam upacar ini. Tidak ada satu keterangan agama yang melarang terhadap persoalan ini. Apalagi kalau makanan tersebut adalah hasil usaha atau dari uang yang dikeluarkan si anak sebagai shadaqoh untuk menghormati para tamu yang pada saat itu diajak untuk bersama-sama mendo’akan kepada orang tuanya yang dikhauli. 110)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

110. Kalau ada orang membawa makanan, lalu di satu tempat di makan bersama-sama orang banyak, lebih-lebih kalau hal itu diniati sebagai sedekah, maka jelas amalan itu adalah amalan baik dan dipahalai.
Hal itu tidak ada seorang Muslim pun yang menentangnya. Tetapi dalam kasus Peringatan Khaul ini masalahnya tidak terhenti sampai di situ saja, sebab :
a. Mereka itu dapat digolongkan sebagai menyelenggarakan makan-makan di rumah ahlil mayit, yang sudah jelas “haram” hukumnya menurut ijma’ Sahabat.
b. Masalah kedua ialah, bahwa mereka yang hadir dalam upacara peringatan khaul itu memiliki anggapan, bahwa roh si mayit dapat memantulkan cahaya berkahnya, sehingga kehadiran mereka di situ itu dilatar belakangi oleh pelbagai niat yang syirik, seperti ingin kaya, naik pangkat, dsb, karena berkahnya mayit yang diperingati.
Jadi penyelenggaraan makan-makan dalam upacara khaul itu mempunyai keburukan ganda, keburukan yang pertama yaitu kumpul makan-makan itu sendiri, yang hukumnya adalah haram menurut ijma’ Sahabat, dan keburukan kedua yaitu, karena mereka yang berkumpul di situ itu dengan niat membikin umpan balik, yaitu di samping mereka bersedekah, juga mengharapkan berkahnya mayit.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Benarlah kiranya petunjuk Nabi dalam Hadits yang diceritakan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda :

إذا مت ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية ، أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعونه
(رواه البخاري ومسلم)

“Apabila telah mati anak Adam (manusia) maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan kepada orang tuanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).


Pernyataan Nabi sebagaimana yang tersebut di dalam Hadits di atas jelas memberi pengertian bahwa tindak perbuatan si anak mendo’akan kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia adalah dibenarkan oleh ajaran Islam. Tidak ada jeleknya jika dalam acara mendo’akan orang tuanya yang juga dibantu oleh para tamu yang diundang kemudian si anak tersebut mengeluarkan makanan untuk menghormat kepada mereka. Hal ini telah sesuai dengan maksud Hadits yang tersebut pada bagian di muka tadi.
Ada juga di antara mereka yang hadlir dalam upacara khaul terutama khaul seorang Wali atau Ulama yang dengan tulus hati memberikan makanan-makanan untuk menghormati atau berharap berkah dari si Wali atau Ulama yang dikhauli.
Tindakan mereka ini semata-mata karena didorong oleh rasa mahabbah (cinta) kepada Wali atau Ulama yang dikhauli tersebut.

Salahkah amal perbuatan sementara mereka ini. Jawabannya : tidak. Karena Nabi sendiri memberikan tuntunan kepada ummatnya sebagaiman Hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda :

ألمرء مع من أحب (رواه البخاري ومسلم)

“Sesorang itu beserta yang ia cintai”. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Menurut Hadits ini terang sekali bahwa orang yang cinta kepada Wali atau Ulama maka ia akan beserta Wali dan Ulama terutama kelak pada hari qiyamat.
Dalam Hadits yang lain Nabi bersabda :

يحشرالناس يوم القيامة مع من أحب (رواه البخاري)

“Akan digiring (ke Mahsyar) manusia pada hari qiyamat beserta orang yang ia cintai” (H.R. Bukhari).
Kedua Hadits shaheh di atas itu memberikan pengertian bahwa Nabi telah menegaskan kelak pada hari qiyamat seseorang akan beserta yang ia cintai. Ketika berada di dunia siapa yang dicintai, kalau yang ia cintai itu Nabinya (Muhammad), para Wali, para Ulama, maka kelak pada hari qiyamat orang itu akan berkumpul bersama-dama dengan Nabi, para Wali dan para Alim Ulama. 111)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

111. Mencintai Ulama’ itu satu masalah, dan mencari berkahnya mayit itu pun satu masalah tersendiri. Mencintai sesama Muslim, lebih-lebih Ulama’nya, itu sudah sama-sama dimaklulmi baiknya. Tetapi mencintai Ulama’ secara berlebihan (ghuluw) sehingga mempunyai anggapan, bahwa apa saja yang diucapkan dan diperbuat pasti benar, adalah “cinta buta” yang tentu saja hal itu “terlarang”, sebab la tha’ata li makhluqin fi ma’shi-yatil khaliq ( = tidak da ketaatan kepada makhluk dalam hal ma’siat kepada Allah).

Mencintai Ulama’ dan menghormatinya, dengan cara menyelenggarakan upacara peringatan khaul, adalah cinta yang berlebih-lebihan, yang tidak pernah dituntunkan dan dicontohkan dalam Islam, baik oleh Nabi sendiri maupun Sahabat-sahabatnya.
Bahkan Nabi sendiri pernah melarang, dengan sabdanya, yang artinya :
“Janganlah kamu jadikan kuburku sebagai upacara peringatan tahunan…….” (HR Abu Daud).

Lebih-lebih kalau dalam penyelenggaraan upacara itu dengan adanya niat membikin umpan balik, yaitu disamping tujuan bersedekah, juga ada keinginan memperoleh berkahnya mayit, sehingga awak menjadi kaya, dagangan menjadi laris, pangkat meningkat, dsb.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Hal inilah yang mendorong kuat mereka bershadaqoh, berdatang dalam suatu upacara khaul seorang Wali atau Ulama, bahkan banyak sekali yang memeberikan makanan-makanan bukan untuk Wali atau Ulama yang dikhauli, tapi untuk para tamu yang hadlir dalam upaca tersebut.
Demikian itulah beberapa pengertian yang sebenarnya dipahami oleh masyarakat yang pada pokoknya makan-makan berkumpul di rumah ahli mayit itu jelas dibenarkan oleh ajaran Islam. Sudah selayaknya pengertian ini disangkal dan tidak dipercayai oleh para ahli khilah (ngothak athek = bahasa jawa). 112)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

112. Anda berkesimpulan, bahwa “berkumpul makan-makan di rumah ahlil mayit” itu dibenarkan. Kesimpulan ini diambil dari dalil yang mana ? sebab seluruh dalil yang anda tampilkan dalam buku ini, satupun tidak ada yang dapat disimpulkan demikian; yang dapat disimpulkan seperti itu hanya “silat lidah” anda sendiri.
Kalau Sahabat Nabi telah sepakat (ijma’) menyatakan “HARAM”, lalu anda putar balik seratus delapan puluh derajat menjadi “DIBENARKAN”, hal semacam ini, kalau tidak boleh dikatakan menghianati ilmu, maka sekurang-kurangnya dapat disebut sebagai “menipu ummat” demi mempertahankan suatu amalan yang sudah terlanjur direstui dan bahkan dianjurkan.

Kalau Imam Syafi’i ra menganjurkan agar jiran membantu meringankan rasa sedih dan duka keluarga mayit, dengan membantu membikinkan makanan untuk mereka sekurang-kurangnya untuk keperluan sehari semalam, kemudian anda PUTAR BALIK menjadi MEMBANTU MENYELENGGARAKAN UPACARA KUMPUL MAKAN-MAKAN DI RUMAH AHLIL MAYIT. Ini kalu tidak boleh dikatakan menipu umat, maka sekurang-kurangnya perbuatan semacam ini dapat dikategorikan sebagai suatu kecurangan demi menuruti hawa nafsu.
Ketahuilah, bahwa kaum Muslimin masa kini sangat kritis dalam menerima atau menangkap segala bentuk informasi atau ilmu pengetahuan, terutama yang menyangkut keselamatan mereka di akherat nanti, mereka sudah meningkat kesadarannya, sehingga tidak mudah dikibuli dengan cara memutar balik dalil dengan pelbagai dalih seperti yang anda perbuat.

BAGAIMANA CARA KELUAR DARI KHILAF MASALAH INI ?

Masalah berkumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit, yang untuk di indonesia lebih dikenal dengan upacara TAHLIL-AN atau PERINGATAN KHAUL ini garis besarnya ada dua pendapat.
Pendapat pertama mengatakan, bahwa hukum amalan tersebut adalah “HARAM”. Berdasarkan hadis shaheh riwayat Jarir bin Abdillah Al-Bajlli, yang merupakan pendapat kesepakatan (ijma’) para Sahabat Nabi saw, dan bahkan syirik kalau ada umpan baliknya.
Pendapat kedua mengatakan, bahwa amalan tersebut dapat dibenarkan, dengan alasan, untuk tujuan sedekah, menghormat tamu, dan makanan-makanan itu toh dari tetangga-tetangga bukan bukan dari ahlil mayit sendiri.

Bagaimana cara keluar dari khilaf masalah ini ?

Kalau kita mengerjakan amalan tersebut, yakni menyelenggarakan makan-makan di waktu ada keluarga yang meninggal, maka kita DIBENARKAN oleh pendapat kedua, tapi kita dicela oleh pendapat pertama, dan kalau pendapat pertama itu ternyata benar dalam pandangan Allah, maka kelak kita akan terkena murkan-Nya, sebab kita telah melanggar hal yang diharamkan.
Kalau tidak mengerjakan amalan tersebut, kita dibenarkan oleh pendapat pertama dan selamat dari kemungkinan terkena siksa Allah, tetapi kita tidak dicela oleh pendapat kedua, sebab pendapat kedua tidak mewajibkan berkumpul dan makan-makan dirumah ahlil mayit pada setiap ada peristiwa kematian, pendapat kedua hanya mengatakan, AMALAN ITU DAPAT DIBENARKAN, dan paling tinggi pendapat kedua hanya MENGANJURKAN tapi yang jelas tidak mewajibkan.
Jadi, kita akan keluar dari khilaf dalam masalah bekumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit ini, kalau kita TIDAK MENGERJAKAN amalan tersebut, yakni meninggalkan sama sekali.
(sesorang akan dicela apabila ia tidak melakukan kewajiban, atau melanggar larangan yang bernilai haram).
Qaidah umum mengatakan :
- Keluar dari perbedaan pendapat itu dianjurkan/disunatkan.
- Hati-hati itu dituntut dalam Agama.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

KECEPATAN CAHAYA (AL-QUR’AN DAN SAINS)

Mungkin kita pernah tahu bahwa konstanta C, atau kecepatan cahaya yaitu kecepatan tercepat di jagat raya yang telah diukur, dihitung atau ditentukan oleh berbagai institusi berikut:

• US National Bureau of Standards
C = 299792.4574 + 0.0011 km/det
• The British National Physical Laboratory
C = 299792.4590 + 0.0008 km/det
• Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar
”Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacum selama jangka waktu 1/299792458 detik”.

Tapi kita sebagai seorang muslim seharusnya lebih tahu dan yakin bahwa konstanta C bisa dihitung/ditentukan secara tepat menggunakan informasi dari kitab suci yang diturunkan 14 abad silam yaitu Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi ilmiah dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di abad modern ini. Penemu hitungan ini adalah seorang ahli Fisika dari Mesir bernama DR. Mansour Hassab El-Naby.

Dalam Al-Qur’an dinyatakan :
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.” [QS. Yusuf (10) : 5]

[669] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.

“dan Dialah yang Telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [QS. Al-Ambiya’(21) : 33]

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, Kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” [QS. As Sajdah (32): 5]

Berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas, terutama ayat yang terakhir (ayat 32:5) dapat disimpulkan bahwa jarak yang dicapai Sang urusan selama satu hari sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1000 tahun atau 12000 bulan.
C.t = 12000.L
Dimana: C = Kecepatan Sang urusan, t = waktu dalam 1 hari, dan L = panjang rute edar bulan selama 1 bulan.

Berbagai sistem kalender telah diuji, namun “Sistem kalender bulan sidereal”menghasilkan nilai C yang persis sama dengan nilai C yang sudah diketahui melalui pengukuran.

Ada dua macam sistem kalender bulan:
1. Sistem Synodik, didasarkan atas penampakan semu gerak bulan dan matahari dari bumi, yaitu 1 hari = 24 jam dan 1 bulan = 29.53059 hari
2. Sistem Sidereal, didasarkan atas pergerakan relatif bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta, yaitu 1 hari = 24 jam 56 menit 4.0609 detik = 86164.0906 detik dan 1 bulan = 27.321661 hari.
Sebuah catatan tentang kecepatan bulan (v). Ada dua tipe kecepatan bulan:
1. Kecepatan relatif terhadap bumi yang bisa dihitung dengan rumus berikut Ve = 2 π R / T dimana R = jari-jari revolusi bulan = 384264 km. T = periode revolusi bulan = 655.71986 jam. Jadi Ve = 2 x 3.14162 x 384264 km / 655.71986 jam = 3682.07 km/jam
2. Kecepatan relatif terhadap bintang atau alam semesta. Einstein mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini dihitung dengan mengalikan yang pertama dengan cosinus α, sehingga: v = Ve . Coz α, dimana α adalah sudut yang dibentuk oleh revolusi bumi selama 1 bula sideral α = 26.92848o

Jadi:
C . t = 12000 . L
C . t = 12000 . v . T
C . t = 12000 . (Ve . Cos α) . T

Keterangan:
L = v . T dan v = Ve . Cos α
Ve = 3682.07 km/jam
Α =26.92848o
T = 655.71986 jam
T = 86164.0906 s

C = 12000 . Ve . Cos α . T / t
C =12000 x 3682.07 km/jam x 0.89157 x 655.71986 jam x 86164.0906 detik
C = 299792.5 km/detik

Bandingkan C (kecepatan sang urusan) hasil pengukuran dengan nilai C (kecepatan cahaya) yang sudah diketahui!

Nilai hasil C hasil perhitungan: C = 299792.5 km/detik
Nilai C hasil pengukuran:
• US National Bureau of Standards
C = 299792.4574 + 0.0011 km/detik
• The British National Physical Laboratory
C = 299792.4590 + 0.0008 km/detik
• Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar
”Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacum selama jangka waktu 1/299792458 detik”.

KESIMPULAN:
(dari Artikel Prof. El-Naby)

“Perhitungan ini membuktikan keakuratan dan konsistensi nilai konstanta C hasil pengukuran selama ini dan juga menunjukkan kebenaran Al-Qur’anul karim sebagai wahyu yang patut dipelajari dengan analisis yang tajam karena penulisnya adalah Sang Pencipta alam semesta”.

Bismillahirrahmanirrahim...

“1.) Alif laam miim 2.) Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. 3.) Tetapi Mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: "Dia Muhammad mengada-adakannya." Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk. 4.) Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? 5.) Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, Kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”

Referensi:
• Elnaby, M.H., 1990, A New Astronomical Quranic Method for the Determination of The Gratest Speed C
http://www.islamicity.org/Science/960703A.HTM
• Fix, John D. 1995, Astronom, journey of the Cosmic Frontier 1st edition, Mosby-Year Book, Inc., St Louis, Missouri
• The Holy Quran online, http://islam.org/mosque/quran.htm
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

LOGIKA MATEMATIKA DALAM SHALAT

Rahasia temuan angka yang ingin penulis paparkan disini diambil dari terjemahan kitab “Min al-I'jaz al-Balaghiy Wa al-'Adadiy li al-Qur’an al-Karim”, karya DR. Abu Zahra' An-Najdiy terbitan Al-Wakalah AI-'Alamiyyah li At-Tawzi, 1990.
Penulis mencoba mengkorelasikan dengan ilmu sains sehingga pembaca dapat memahami lebih dalam tentang keutamaan dan faidah yang besar dibalik perintah Allah yang terkandung dalam shalat.

Shalat lima waktu bagi umat Muhammad diwajibkan di malam Isra’ sebagaimana yang tercantum dalam Hadits riwayat Bukhori dalam bab shalat hadits ke 211. Tidak diragukan lagi bahwa isra' mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan kebenaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan keagungan kedudukan beliau di sisi-Nya, juga menujukkan kekuasaan Allah yang Maha Agung dan ketinggian-Nya di atas semua makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [Al-Isra’: 1]

Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara mutawatir, bahwa beliau naik ke langit, lalu dibukakan baginya pintu-pintu langit sehingga mencapai langit yang ketujuh, kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berbicara kepadanya dan mewajibkan shalat yang lima waktu kepadanya. Pertama-tama Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkannya lima puluh kali shalat, namun Nabi kita tidak langsung turun ke bumi, tapi beliau kembali kepada-Nya dan minta diringankan, sampai akhirnya hanya lima kali saja tapi pahalanya sama dengan lima puluh kali, karena suatu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Puji dan syukur bagi Allah atas semua nik'mat-Nya.

 LOGIKA 1: ISRA’ MI’RAJ

Kata 'araja dan turunan katanya dengan pengertian naik ke langit, di dalam Al-Quran disebut sebanyak tujuh kali sesuai dengan jumlah langit, yaitu tujuh. Perlu diketahui, bahwa kata tersebut digunakan oleh Al-Quran untuk mengungkapkan perjalanan jauh menembus luar angkasa, dan gravitasi bumi. Menurut sains modern perjalanan di sana hanya bisa dilakukan dengan cara melayang-layang (mun'arijat atau mun'athifat). Sesekali Al-Quran menggunakan kata yash'adu untuk burung yang terbang di udara (planet bumi) atau di sekitarnya, yaitu seperti disebutkan pada ayat-ayat berikut :
1. AI-Ma'arij: 4
2. Al-Sajdah: 5
3. Saba': 2
4. Al-Hadid: 4
5. AI-Flijr: 14
6. AI-Zukhruf: 33
7. Al-Ma'arij: 3

Begitupun kata "sab'u" berkaitan dengan kata "samawat", sebelumnya atau sesudahnya. Kata tersebut dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 7 kali. Begitu juga hari dalam seminggu berjumlah 7 hari, dan langit pun berjumlah 7. Berikut ini adalah ayat-ayat mengenainya:
1. Al-Baqarah: 29
2. Al-Isra: 44
3. Al-Mu'minun: 84
4. Fushshilat: 12
5. At-Thalaq: 12
6. AI-Mulk: 3
7. Nuh: 15

Dalam hal ini kita shalat berputar secara terus menerus dari senin sampai ahad dan kembali ke senin lagi dan kita pun shalat menghadap ka’bah dimana ka’bah juga disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali yaitu pada ayat¬-ayat berikut :
1. Al¬-Baqarah: 143
2. Al-Baqarah: 144
3. Al-Baqarah: 145
4. Yunus: 87
5. Al-Baqarah: 145
6. Al-Baqarah: 142
7. Al-Baqarah : 145

 LOGIKA 2: PERINTAH SHALAT

Dalam Al-Quran, kata yang berkaitan dengan Shalat/Shalawat disebut dalam lima ayat yang berbeda, sama dengan jumlah shalat wajib sehari semalam dalam waktu yang berbeda: shubuh, zuhur, asar, maghrib dan isya, yaitu di dalam ayat-ayat berikut:
1. Al-Baqarah: 157
2. Al-Baqarah: 238
3. At-Taubah: 99
4. Al-Haj: 40
5. Al-Mukminun: 9

Perintah shalat lima waktu tersebut memiliki jumlah roka’at sebanyak 17 kali (4x3 + 3 + 2 = 17). Hal ini sesuai dengan kata kerja perintah (fi'l al-amr) "aqim" atau "aqimu" (dirikanlah) yang diikuti dengan kata "shalat" disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu (17 rakaat). Yang mendukung hal demikian adalah disebutkannya kata "fardh" dengan berbagai turunan katanya yang disebut sebanyak 17 kali, hal ini sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu dalam sehari semalam. Ayat-ayat yang memuat kata shalat yang digabungkan dengan kata kerja perintah "aqim" atau "aqimu" adalah sebagai berikut:
1. Al-Baqarah: 43
2. Ali Imran: 83
3. AI-Baqarah: 110
4. An-Nisa: 77
5. An-Nisa: 103
6. Al-An'am: 72
7. Yunus: 87
8. Yunus: 78
9. Al-Isra: 78
10. Thaha: 14
11. Al-Haj: 78
12. Al-Nur: 56
13. Al-Ankabut: 45
14. Al-Rum: 30
15. Luqman: 18
16. AI-Mujadilah: 13
17. AI-Muzammil: 20

Berikut adalah kata "faradha" beserta turunan katanya dengan pengertian faridah(kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan) di dalam Al¬-Quran disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat, seperti tercantum di dalam ayat-ayat berikut:
1. Al-Baqarah: 197
2. AI-Qashash: 85
3. Al-Ahzab: 38
4. Al¬ Tahrim: 2
5. Al-Baqa¬rah: 237
6. Al-Baqarah: 237
7. Al-Ahzab: 50
8. Al-Nur: 1
9. Al-Baqarah: 236
10. AI-Baqarah: 236
11. Al-Baqa¬rah: 237
12. An-Nisa: 11
13. Al-Nisa: 24
14. An-Nisa: 24
15. At-Taubah: 60
16. An-Nisa: 7
17. An-Nisa: 7

 LOGIKA 3: RAKAAT SHALAT DAN SUJUD

Setelah kita mengetahui bahwa jumlah ayat sesuai kata kerja perintah (fi'l al-amr) "aqim" atau "aqimu" (dirikanlah) yang diikuti dengan kata "shalat" disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah kata "fardh" yang berkaitan dengan perintah shalat fardhu (17 rakaat), maka kita akan menemukan bahwa kata sujud yang dilakukan oleh mereka yang berakal disebutkan sebanyak 34 kali. Jumlah tersebut sama dengan jumlah sujud dalam shalat sehari¬-hari yang dilakukan pada lima waktu sebanyak 17 rakaat. Pada setiap rakaat dilakukan dua kali sujud sehingga jumlahnya menjadi 34 kali sujud sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut:
1. Al-Baqarah: 34)
Ayat ini merupakan ayat ketiga puluh empat pada surat Al-Baqarah, yaitu surat dalam mushaf yang pertama yang menyebutkan masalah sujud yang jumlahnya sama dengan jumlah sujud keseharian.
2. Al-Araf: 11
3. AI-Isra: 61
4. Al-Kahfi: 50
5. Thaha: 116
6. AI-Hajj : 77
7. Al-Furqan: 60
8. Fushshilat: 47
9. Al-Najm: 62
10. Ali Imran: 43
11. Al-Hijr: 30
12. Shad: 73
13. Al-Baqarah: 24
14. An-Nisa: 102
15. Al-A'raf: 11
16. Al-Isra: 61
17. AI-Kahfi: 61
18. Taha: 116
19. Al¬ Hijr: 33
20. Al-Isra: 61
21. AI-A'raf: 12
22. Shad: 75
23. Fushilat: 37
24. Al-Furqan: 60
25. AI-Ra'd: 15
26. Al-Nahl: 49
27. Al-Haj: 18
28. Al-Naml: 25
29. Ali Imran: 113
30. Al-A'raf: 206
31. Al-Naml: 24
32. Al-Insyihaq: 21
33. AI-Insan: 26
34. AI-Alaq: 19

Dalam Al-Quran tidak ada kata sujud yang dihubungkan dengan makhluk yang tidak berakal, kecuali satu ayat saja, yaitu dalam firman Allah SWT:

“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-keduanya sujud kepada-Nya.” (Al-Rahman: 6).

Selain dalam ayat tersebut, 34 kata kerja (fi'il) sujud semuanya dihubungkan dengan makhluk berakal.

 LOGIKA 4: SHALAT FADHU DAN SUNAT

Kata shalat berikut turunan katanya, disertai dengan kata qiyam berikut turunan katanya, dalam Al-Quran disebut 51 kali. Jumlah ini sebanding dengan jumlah rakaat shalat, yaitu 17 rakaat shalat wajib yang lima, ditambah dengan 34 rakaat shalat sunat - jika shalat sunat fajar (shubuh) dipandang dua rakaat, delapan sunat rakaat shalat zhuhur, delapan rakaat shalat ashar, empat rakaat shalat maghrib, dan sunat isya dipandang satu rakaat dari dua rakaat dengan satu duduk, ditambah dengan 11 rakaat sunat malam, sehingga jumlahnya lengkap 34 rakaat. Dengan demikian, maka jumlah keseluruhan shalat tersebut dengan ditambah 17 rakaat shalat wajib menjadi 51 rakaat. Kata-kata tersebut terdapat dalam ayat-ayat berikut:
1. At-Taubah; 84
2. Ali Imran: 39
3. AI-Baqarah: 3
4. AI-Baqarah: 43
5. Al-Baqarah: 83
6. AI-Baqarah: 110
7. Al-Baqarah: 177
8. Al-Baqarah: 277
9. An-Nisa: 77
10. An-Nisa: 102
11. An-Nisa: 103
12. An-Nisa: 103
13. An-Nisa: 142
14. An-Nisa: 162
15. AI-Maidah: 6
16. Al-Maidah:12
17. AI-Maidah: 55
18. Al-An'am: 72
19. Al-A'raf: 170
20. Al-Anfal: 3
21. At-Taubah: 5
22. At-Taubah: 11
23. At-Taubah: 18
24. Al-Taubah: 71
25. Yunus: 87
26. Hud: 114
27. Al-Ra'd: 22
28. Ibrahim: 31
29. Ibrahim: 37
30. Ibrahim: 40
31. AI-Isra: 78
32. Thaha: 14
33. Al-Anbiya: 73
34. Al-Haj: 35
35. Al-Haj: 41
36. At-Taubah: 78
37. Al-Nur: 37
38. AI-Nur: 56
39. Al-Naml: 3
40. Al-Ankabut: 45
41. AI-Rum: 31
42. Luqman: 4
43. Luqman: 18
44. Al-Ahzab: 33
45. Fathir: 18
46. Fathir: 18
47. Al-Syura: 38
48. AI-Mujadilah: 13
49. Al-Muzammil: 20
50. Al-Bayyinah: 5
51. Al-Baqarah: 125

Semua itu merupakan karunia Allah yang membuktikan secara jelas kebenaran mazhab fiqih yang memandang bahwa bilangan shalat sunnat sehari semalam 34 rakaat.

 LOGIKA 5: SUJUD

Di dalam “The Human Body” di katakan bahwa pada umur 80 tahun, manusia mendapat jatah darah sebanyak 40.000 liter.
Dalam 1 tahun kita mendapat jatah darah sebanyak:
40.000 liter : 80 = 500 liter
Jadi dalam sehari kita mendapat jatah darah sebanyak:
500 liter : 360 = 1,4 liter
Kita sudah di syari’atkan untuk sholat lima waktu sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, yaitu 17 roka’at, tiap roka’at ada 2 kali sujud. Jadi dalam 1 hari kita sudah di syari’atkan untuk bersujud sebanyak:
2 x 17 = 34 kali.
Jatah darah yang yang di berikan untuk tiap kali bersujud:
1,4 : 34 = 0,04 liter.
Dalam interval waktu 24 jam : 34 = 42 menit
42 menit
Jatah darah 0,04 liter
Jika kita tidak bersujud pada interval 42 menit itu, maka darah yang 0,04 liter itu tidak di berikan ke otak, tetapi ke paha, ke lengan. (KH. Fahmi Basya: Flaying Book 187)
Jadi orang yang tidak bersujud, makanya untuk paha, bukan untuk otak, makan untuk paha ini seperti hewan ternak (Al-An’am).
Dan orang yang tidak bersujud ialah orng kafir:

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad, ke 47 ayat 12)

Ketika bersujud, otak paling depan berada di paling bawah. Ia akan lebih banyak di beri makan dan ternyata otak depan kita yang paling canggih. Ingatlah jatah 0,04 liter itu harus di berikan kepada otak depan bukan untuk paha atau lengan.

Dalam penelitian yang likakukan Prof. John Hodges di Hospital Cambridge mengatakan bahwa otak depan merupakan bagian otak yang membuat setiap orang berbeda secara individual. Ini sangat penting untuk temperamen, interaksi sosial, dan gaya pribadi setiap orang. Semua itu tergantung pada otak depan. Jadi tidak heran kalau sedekat-dekat hamba pada tuhanya ketika ia bersujud. Tanpa otak manusia tidak mungkin mengabdi dan ia akan seperti binatang.

Rasulullah SAW bersabda: “Sedekat dekat seorang hamba pada tuhan-Nya ketika ia bersujud” (HR. Shahih Muslim).

 KESIMPULAN

Suatu kegiatan fisik akan lebih mudah diingat, dibandingkan dengan hanya kegiatan pikiran, apalagi kegiatan fisik itu dilakukan secara berulang-ulang, maka hal ini akan menciptakan suatu pengalaman yang nyaris tak terlupakan. Ketika secara fisik seorang melakukan shalat maka kegiatan itu akan membekas pada ingatan. Kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menciptakan suatu kebiasaan (habit), dan kebiasaan secara berulang-ulang akan menciptakan suatu pengalaman yang berujung pada pembentukan karakter. Di setiap 1 raka’at shalat memiliki 2 sujud yaitu meletakkan kening di atas lantai. Ini suatu pengakuan yang tidak hanya dilakukan secara pikiran tetapi juga dilaksanakan secara fisik, bahwa kita hanya menyembah kepada Allah SWT dan tidak ada yang lain yang patut disembah. Inilah salah satu pelatihan wujud integritas dan komitmen yang sesungguhnya. Komitmen antara seorang manusia dengan Tuhannya Yang Maha Besar. Apabila kegiatan ini dilakukan seumur hidup, kita bisa bayangkan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkannya melalui metode shalat ini akan sungguh luarbiasa apabila ia memahami maknanya.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Tubuh manusia mengandung sistem kelistrikan. Mulai dari mekanisme otak, jantung, ginjal, paru-paru, sistem pencernaan, sistem hormonal, otot-otot dan berbagai jaringan lainnya. Semuanya bekerja berdasar sistem kelistrikan. Karena itu kita bisa mengukur tegangan listrik di bagian tubuh mana pun yang kita mau. Semuanya ada tegangan listriknya. Bahkan setiap sel di tubuh kita memiliki tegangan antara -90 mvolt pada saat rileks sampai 40 mvott pada saat beraktifitas.

Tubuh kita boleh disebut sebagai sistem elektromagnetik. Sebab, kelistrikan sangat erat kaitannya dengan kemagnetan. Otak kita memiliki medan kemagnetan. Sebagaimana jantung ataupun bagian-bagian lain di tubuh kita.

 SISTEM SYARAF

a. Sistem Saraf Pusat :
Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer.
Saraf perifer :
 Afferen : mengirim informasi ke otak / medula spinalis
 Eferen : dari otak atau medula spinalis ke otot dan kelenjar
b. Sistem Saraf Otonom :
Mengatur organ dalam tubuh seperti jantung, usus dan kelenjar secara tidak sadar.

Berikut adalah konsentrasi ion di dalam dan diluar sel:


 KELISTRIKAN SARAF

 Kecepatan impuls serat syaraf : serat syarat berdiameter besar, kemampuan menghantarkan impuls lebih cepat dari yang berdiameter kecil
 Serat syarat ada 2 type :
1. Bermyelin :
Banyak terdapat pada manusia. Suatu insulator yang baik, kemampuan mengaliri listrik sangat rendah. Aliran sinyal dapat meloncat dari satu simpul ke simpul yang lain.
2. Tanpa Myelin :
 Akson tanpa myelin diameter 1 mm kecepetan 20 -50 m/s.
 Akson bermyelin diameter 1 μm kecepatan 100 m/s.

Dalam keadaan normal:

Na + diluar sel > Na + di dalam sel

Diukur dengan Galvanometer -90 mVolt à Polarisasi
Berikut adalah gambar proses kelistrikan sel saraf otak manusia:
 SISTEM KELISTRIKAN DALAM TUBUH

A. Sinapsis Dan Neuromyal Junction
 Sinapsis : Hubungan antara 2 buah syaraf.
 Neuromyal Junction : Berakhirnya saraf pada sel otot.
Sinapsis dan Neoromyal Junction ini memiliki kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang lain.
Pada saat depolarisasi, zat kimia pada otot bergetar/trigger à Kontraksi otot, repolarisasi à Relaksasi otot.

B. Kelistrikan Otot Jantung
 Otot Jantung (miokardium) berbeda dengan syaraf dan otot bergaris.
Ion Na+ mudah bocor sehingga setelah repolarisasi, ion Na+ akan masuk kembali ke sel à Depolarisasi spontan.
(nilai ambang dan potensial aksi tanpa memerlukan rangsangan dari luar).
Sel otot jantung akan mencapai nilai ambang dan potensial aksi pada kecepatan yang teratur à Natural Rate/kecepatan dasar membran sel.
Untuk menentukan natural rate dihitung dari mulai depolarisasi spontan sampai nilai ambang setelah repolarisasi. Yang mempengaruhi :
1. Potensial membran istirahat.
2. Tingkat dari nilai ambang.
3. Slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang.
Ada sekumpulan sel utama yang secara spontan menghasilkan potensial aksi yang akan dengan cepat mendepolarisasi sel otot miokardium yang sedang mengalami istirahat à Pace Maker / perintis jantung.

 ELEKTRODA

 Untuk mengukur potensial aksi dengan memindahkan transmisi ion ke penyalur elektron
 Bahan yang dipakai perak dan tembaga
Bahan elektroda :
1. Dapat disterilkan.
2. Tidak mengandung racun.
Biasanya Perak ( Ag ) ditutupi lapisan tipis perak Chlorida ( AgCl ).
 Perbedaan potensial sebesar 0,80 – 0,34 = 0,46 V, dijumpai apabila kedua elektroda disambungkan pada kedua tangan penderita.

 Macam Elektroda
1. Elektroda Jarum ( Mikro elektroda )
Untuk mengukur aktivitas motor unit tunggal.

2. Elektroda Mikropipet
 Dibuat dari gelas dgn diameter 0.5 μm. Untuk mengukur potensial biolistrik di dekat/dalam sebuah sel.
 Dapat menyalurkan elektroda dalam sebuah sel. Tahanan 10 MΏ.

3. Elektroda permukaan kulit.
Terbuat dari metal/logam yang tahan karat,misal perak,nikel atau alloy.
a) Bentuk plat.
 Dipakai untuk mengukur potensial listrik permukaan tubuh EKG, EEG, dan EMG.
 Dipakai tahun 1917 à didaerah yg dipasangkan elektroda digosok dengan saline solution (air garam fisiologi). Diganti dengan Jelly atau pasta (elektrolit).
b) Bentuk Suction Cup
Dipakai waktu melakukan EKG.
c) Bentuk Floating
Type elektroda ngambang, agar mencegah kontak langsung antara logam dengan kulit.
d) Bentuk Ear Clip
Suatu elektroda sbg referensi pada EEG dan EKG.
e) Bentuk Batang
Suatu elektroda sbg referensi pada EEG dan EKG.

 ENERGI LISTRIK à ENERGI CAHAYA

Sistem kelistrikan dalam tubuh manusia sesuai konsep ilmiah dapat memancarkan cahaya (aura). Sistem kelistrikan ini dibagi menjadi generator-generator energi yang disebut sebagai cakra. Ada 7 cakra utama yang banyak dipelajari, dan terletak di sepanjang ubun-ubun turun ke arah tulang belakang, sampai ke tulang ekor.
Ke tujuh cakra utama itu dikenal sebagai Cakra Mahkota, letaknya di ubun-ubun, Cakra Tenggorok di leher, Cakra Jantung di sekitar jantung, Cakra Solar Pleksus ada di atas pusar, Cakra Seks ada di bawah pusar, dan Cakra Dasar di tulang ekor.

Cakra ini dipersepsi sebagai wilayah tubuh yang menjadi pusat pembangkitan energi. lni memang konsep Kedokteran Timur. Sebagaimana Tusuk Jarum. Bahwa titik-titik tertentu di dalam tubuh manusia memiliki kemampuan menghasilkan energi atau terkait dengan sistem energial secara holistik. Dan secara ilmiah, memang telah bisa dibuktikan adanya tegangan listrik diantara organ-organ tertentu di dalam tubuh manusia seperti yang telah dijelaskan diatas.

Ke tujuh cakra utama itu secara empirik telah dibuktikan fungsi dan pengaruhnya. Meskipun masih perlu diteliti terus secara lebih mendalam. Di antaranya, cakra dasar adalah cakra yang disebut-sebut sangat berpengaruh pada munculnya warna merah pada aura seseorang.

Padahal sebagaimana kita ketahui, warna merah adalah warna yang menunjukkan sifat-sifat emosional, jiwa yang tertekan, ketergesa-gesaan, perhatian pada dunia fisik secara berlebihan, dan keberanian mengambil resiko. Maka berarti cakra dasar adalah cakra yang bertanggung jawab terhadap munculnya sifat-sifat tersebut.

Cakra kedua adalah cakra Seks. Cakra ini dikenal sebagai pusat munculnya warna jingga alias oranye. Disinilah pusat kreatifitas fisik. Warna jingga yang dominan menunjukkan sifat ketertarikan pada penampilan diri secara fisik. Baik diri sendiri maupun orang lain.
Orang yang memiliki warna jingga suka berdandan dan menjadi pusat perhatian. Ia senang bergaul dan bersifat hedonistik alias suka bersenang-senang.

Cakra ketiga disebut Cakra Solar pleksus, letaknya di atas pusar. Ia adalah pusat energi yang bertanggungjawab terhadap munculnya warna kuning. Warna ini menunjukkan sifat-sifat egoistik dan ambisi.
Orang yang memiliki warna kuning memiliki ambisi dan cita-cita kuat untuk menjadi penguasa. Energik dan cerdik. Tapi warna ini juga berkait erat dengan tingkat stress yang tinggi.

Cakra ke empat adalah Cakra Jantung, bertanggungjawab terhadap munculnya warna hijau. Di sini muncul getaran-getaran halus yang berkait dengan sifat-sifat lemah lembut. Rasa empati dan kasih sayang, muncul dari generator energi di sini.

Cakra ke lima adalah Cakra Tenggorokan. lnilah cakra penghasil warna biru. Jika cakra ini aktif, maka tubuh kita akan didominasi warna biru. Warna ini erat kaitannya dengan keilmuan dan rasionatitas. Perlumbuhan dan progresifitas. Keinginan mencari realitas hakikat. Makna hidup.

Cakra ke enam berada di kening. Sering disebut sebagai Cakra Mata Ketiga. Generator energi ini menghasilkan warna nila. Ia menggambarkan munculnya intuisi dan spiritualitas pada pemilik aura tersebut. Ia semakin tertarik kepada realitas-realitas di 'dunia dalam'. Inner cosmos. Hal-hal gaib.

Cakra ke tujuh berada di ubun-ubun, menghasilkan warna ungu. Warna ini menunjukkan intensitas spiritualitas yang tinggi. Perhatiamya kepada hal-hal yang bersifat duniawi sangat rendah. Ia lebih tertarik kepada meditasi, tafakur, berdzikir, menyendiri, mencari hubungan dengan Tuhan, dan hal-hal yang bersifat spiritual.

Warna ini sering juga muncul pada para seniman yang sedang asyik menuangkan karya-karyanya. Atau pada para ilmuwan yang sedang asyik meneliti rahasia alam. Membuka tabir keilmuan semesta.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap aktifitas seseorang akan mempengaruhi terhadap pancaran gelombang elektomagnetik yang ditimbulkan dari dalam tubuhnya. Pancaran cahaya tertinggi adalah bagi mereka yang senantiasa meningkatkan kualitas spiritualitasnya karena pada dasarnya manusia memiliki dimensi cahaya yang bersemayam sebagai ruh. Ruh inilah unsur ketuhanan yang melekat pada setiap manusia.

“Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr: 29)

Potensi ruh yang ada pada setiap manusia sesungguhnya dapat membangkitkan energi listrik dalam tubuhnya. Jantung sebagai generator utama penentu kualitas cahaya yang dipancarkan keluar. Cahaya itulah yang dimaksud sebagai cahaya iman.
Allah SWT. berfirman dalam surat ke 66, At-Tahrim ayat 8:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Tahriim: 8)
Ayat tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa dengan adanya sistem kelistrikan dalam tubuh, maka seseorang dapat meningkatkan kualitas cahaya tubuhnya dengan memperbanyak ibadah dan amal shaleh.

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (Dikatakan kepada meraka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar". (QS. Al-Hadiid: 12)
Sekalipun ayat diatas menjelaskan tentang keadaan orang beriman di surga tapi pada hakekatnya adalah manifestasi dari apa yang dilakukan di dunia. Cahaya hang terpancar dari dalam tubuh manusia hanya dapat di lihat dengan alat bantu teknologi yang dikembangkan saat ini.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Mengembalikan Data Hardisk yang Terformat


Masalah yang paling banyak di hadapi oleh kebanyakan orang berkaitan dengan komputer adalah data penting yang hilang akibat salah format hardisk atau terhapus tanpa sengaja dan bahkan hilang akibat virus.

Hal tersebut mudah kita atasi seiring dengan kemajuan teknologi.
Banyak aplikasi yang dapat kita download secara gratis antara lain racovery data, get data back, dll.

Namun disini kita akan lebih mudah mengembalikan data yang terhapus termasuk juga terformat untuk berbagai media penyimpan termasuk hardisk, namanya Recuva. Kemudian saya merekomendasikan software tersebut.

Anda penasaran???
Silahkan download pada link berikut dan coba hasilnya.!
Jika berhasil, anda harus bersyukur pada Allah karena itu adalah pertolangan dari-Nya.

AREA DOWNLOAD:

Recuva 1.37.488

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

SUKSES TANPA BATAS

(Oleh: Burhan, S.Si)
Setiap orang memiliki potensi yang harus dikembangkan untuk meraih prestasi. Potensi tersebut merupakan anugerah Sang Pencipta yang tidak boleh disia-siakan agar dalam setiap langkah dan gerak kehidupan kita penuh makna dan manfaat bagi diri kita dan orang lain. Kesuksesan adalah buah dari prestasi, dengannya kita akan merasakan indahnya kehidupan ini serta kebahagiaan yang tiada henti.

Sukses adalah kata yang mudah diucapkan namun banyak orang yang tidak mengerti arti dari sukses yang sebenarnya. Orang dikatakan sukses jika ia telah mendapatkan apa yang ia harapkan atau telah berhasil mendapatkan sesuatu yang telah dicita-citakan namun pada hakekatnya sukses memiliki makna luas dan tidak hanya untuk orientasi jangka pendek (dunia) namun untuk jangka panjang yang orientasinya adalah untuk kehidupan akhirat.

Sesunggunya kita diciptakan adalah untuk bergerak bukan untuk diam, dalam arti kata bergerak untuk melakukan proses perubahan agar kita maju dan berkembang bukan sebaliknya kita diam tidak melakukan sesuatu apapun yang bermanfaat dan menjadi terbelakang. Orang yang cerdas akan memperbanyak aktifitas dan kreatifitas dengan harapan agar dapat meraih sukses tanpa batas dan ia memiliki keyakinan bahwa diatas langit ada langit dan diatas orang sukses pasti ada yang lebih sukses. Itulah sesunggunya makna dari sukses tanpa batas.

Setiap manusia perlu melatih diri untuk percaya diri karena prestasi tidak dapat diraih tanpa motivasi dan percaya diri. Optimis akan segala sesuatu akan membuat seseorang kuat dalam bekerja dan siap menghadapi tantangan masa depan karena setiap kebaikan yang kita lakukan pasti memiliki tantangan dan rintangan. Oleh karena itu penulis membuat sebuah kata motivasi yang memiliki makna mendalam bagi setiap usaha yang kita lakukan.
لاتتأوه لماذالوردة شائكة ولكن اشكرلأن لكل أشواك وردة، ولاتتأوه لماذانجاحنا يحتاج على تضحية، ولكن اشكرلأن تضحيتنا تندج النجاح
“Jangan kau mengeluh kenapa mawar itu berduri, tapi bersyukurlah karena duri itu bermawar dan jangan kau mengeluh kenapa kesuksesan itu membutuhkan pengorbanan, tapi bersyukurlah karena pengorbanah akan membuahkan kesuksesan”.

Sesungguhnya hidup ini butuh perjuangan, tiada perjuangan tanpa pengorbanan, tiada pengorbanan tanpa kesabaran dan tiada kesabaran tanpa keikhlasan dengan keikhlasan akan mengantarkan kita pada kesuksesan. Inilah sesungguhnya hakikat dari makna yang terkandung dalam Al-Qur’an surat Alam Nasyrah ayat 5-7:
“5. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.

Seseorang dapat meraih sukses tanpa batas dengan usaha dan kerja keras yang dihiasi dengan kesabaran dan keikhlasan. Terdapat banyak kisah yang dapat kita ambil hikmah dari perjuangan dan pengorbanan orang-orang terdahulu sehingga mereka dapat meraih sukses dan namanya dikenal banyak orang. Berikut adalah beberapa cara yang agar sukses tanpa batas dapat kita raih.

BANYAK MEMBACA

Membaca adalah kunci utama untuk meraih sukses. Dengan membaca seseorang akan mendapat banyak informasi dan pengetahuan, membaca juga menjadikan sesorang percaya diri dan berani. Membaca tidak hanya dalam tekstual tapi kontekstual. Sesorang tidak mungkin dapat meraih sukses tanpa belajar (membaca). Belajar adalah proses berubah secara konstan. Seorang dikatakan belajar jika ia mengalami sebuah proses perbaikan yang berkesinambungan dalam dirinya, baik secara berfikir, mentalitas, dan perilaku.” Kata “Iqra” yang ada dalam Al-Qur’an tidak hanya membaca dalam arti membaca teks (buku, majalah, internet, CD, danlain-lain), tatapi juga kontekstual (misalnya bermasyarakat, beroganisasi, berdakwah), sehingga dengan “Iqra” tersebut kita memperoleh pengetahuan (Knowledge).

Seorang ilmuwan bernama Archimedes, yang kemudian namanya diabadikan untuk mengingat hukum Archimedes telah menemukan sesuatu dari hasil membaca. Archimedes telah “membaca” air yang tumpah, ketika dirinya masuk ke dalam bath tub. Kemudian ia menelaah, meneliti, dan mempelajari hal itu secara sungguh-sungguh. Akhirnya dia berhasil “melihat” salah satu “ketentuan Tuhan” yaitu “Hukum Archimedes”. Suatu ketetapan milik Tuhan yang dilihat dan dibaca oleh Archimedes.

Itulah contoh asal-muasalnya suatu ilmu pengetahuan dan peradaban manusia yang dimulai dengan kata “Iqra’” atau “bacalah”. Hal ini juga terjadi akibat dari dorongan suara hati untuk ingin selalu mengetahui berbagai hal. Ini adalah dorongan sifat Allah Yang Maha Ilmu, yang bersemayam di setiap jiwa manusia, sebuah dorongan untuk belajar.

Bacalah contoh ini baik-baik: Misalnya sebuah pesawat ruang angkasa bernama “X” meluncur terbang meninggalkan bumi dengan kecepatan 100.000 km perdetik. Kecepatan diukur dari bumi. Pada saat bersamaan, sebuah pesawat antariksa “Y” lain, juga meluncur ke arah yang sama bersamaan dengan kecepatan lebih tinggi yaitu 180.000 kam perdetik. Pengukuran kecepatan juga dilakukan dari bumi. Berapa beda jaraknya? 80.000 km?… bukan! Ternyata setelah diamati, jawabannya adalah 100.000 kam! Bukan 80.000 kam seperti jawaban anda. Teori Einstein memperhitungkan, bahwa itulah kenyataannya.

Tak ada kekeliruan dari pengalaman ini. Menurut Albert Einstein, hasil kesimpulan tersebut adalah semata-mata akibat dari sifat dasar dari alamiah ruang dan waktu yang sudah bisa diperhitungkan lewat rumus awal komposisi kecepatannya.
Salah satu kesimpulan “teori relativitas Einstein” adalah benda dan energi berada dalam arti yang berimbang, dan berhubungan antara keduanya dirumuskan sebagai:
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasanpasangan (berimbang) supaya kamu mengingat kebesaran Allah".

E, menujukkan energi, dan M, menunjukkan massa atau benda, sedangkan c, merupakan kecepatan cahaya. Karena c sama dengan 180.000 kam perdetik, dengan sendirinya c (cxc) = (180.000 x 180.000) akan menghasilkan energi yang tak terperikan! Dengan demikian berarti, meskipun pengubah sebagian kecil dari massa atom di dalam molekul akan mengeluarkan jumlah energi yang luar biasa besarnya. Teori ini dibuktikan ketika bom atom meluluh-lantakan Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
Einstein, dalam hal ini telah “membaca” hukum keseimbangan alam antara massa dan energi yang dirumuskan sebagai E = M.c. Di sini kadang orang tersesat dengan mengatakan bahwa Albert Einstein adalah yang “menemukan” energi teori Atom. Menurut pandangan penulis, Einstein memang telah mampu membaca menela’ah, mendalami, meneliti, dan menyampaikan, atau melakukan “Iqra’”, terhadap ketepan-ketetapan alam ciptaan Allah yang Maha Ilmu, namun tetaplah Dia Yang Maha Kuat yang memiliki kekuatan itu, bukan Einstein.

BANYAK MENDENGAR

Sesorang tidak cukup hanya dengan membaca untuk dapat meraih sukses akan tetapi mendengar sangatlah penting untuk diperhatikan. Saya ingin berbagi kisah dan cerita dari pengalaman yang penulis dapatkan sejak kuliah di perguruan tinggi. Ada seorang teman sekelas bernama Moh. Dzohri anak lombok yang hari-harinya sibuk dengan organisasi sehingga dia jarang belajar di asrama tapi nilai IPK yang ia peroleh sangat tinggi bahkan dia menjadi wisudawan terbaik. Saya bertanya kepadanya, bagaimana cara belajar sehingga ia selalu benar dalam menjawab soal-soal yang diberikan dosen dan bahkan dia pandai berbicar. Dengan tersenyum ia mengatakan, saya hanya memanfaatkan waktu saat di kelas dan saya mewajibkan duduk di bangku depan karena hal itu membuat saya konsentrasi dan saya berusaha agar saya tidak ketinggalan satu katapun yang diterangkan oleh dosen dan saya memahaminya dengan baik.

Mendengar adalah salah satu cara terbaik selain membaca agar kita dapat memperoleh banyak informasi dan pengetahuan dan Allah berfirman dalam hadits qudsi:
"Seorang hamba akan mendekatkan diri kepada-Ku, hingga Aku mencintainya, dan bila Aku mencintainya, menjadilah pendengaran-Ku yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan-Ku yang digunakan untuk melihat, tangan-Ku yang digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakannya untuk berjalan." (Hadits Qudsi)

Allah akan senantiasa memimbing orang-orang yang mempergunakan telinga yang diberikan-Nya kejalan yang benar dan Allah akan memberikan pengetahuan yang luas baginya. Tanyakanlah kepada orang-orang yang sudah berhasil, apa yang paling berkesan dari perjalanan hidup mereka? Apakah mereka akan menceritakan keterkesanan mereka pada sisi jumlah atau kuantitas kekayaan dan kebendaan mereka? Atau mereka akan bercerita tentang bagaimana mereka menikmati kekayaan mereka? Ataukah mereka lebih suka bercerita tentang penjalanan panjang perjuangan mereka yang sangat berat untuk mencapai impian mereka? Kemudian Anda sebagai pendengar, kira-kira kisah manakah yang paling membuat Anda tertarik untuk mendengarkan? Apakah Anda akan bertanya padanya tentang jumlah uang dan fasilitas yang dimiliki oleh mereka? Atau Anda akan bertanya tentang kisah perjuangan mereka yang begitu keras meraih apa yang mereka impikan? Saya yakin dan percaya, baik yang bercerita maupun yang mendengarkan cerita, tentu lebih menyukai kisah perjalanan yang penuh suka dan duka menuju cita-cita, ketimbang mendengar cerita tentang uang serta bagaimana menikmati kilauan harta dan kemewahan yang diraih oleh mereka dengan penuh perjuangan itu. Kecuali untuk para OKB (Orang Kaya Baru), hal tersebut mungkin tidak akan berlaku.
Succsess is not a destination but a journey, sukses bukanlah sebuah tujuan tetapi merupakan perjalanan itu sendiri. Kita akan medapat informasi dan motivasi dengan mendengar sehingga kita bisa mengikuti jejak dan langkah mereka dalam menuju sukses.

BANYAK BERTANYA

Saya ingin mengawali hal ini dengan sebuah kisah teman saya yang latar belakang ekonominya kurang tapi dengan semangat dan perjuangnnya telah membuat ia sukses. Salah seorang teman saya yang juga pernah menjadi sekretaris saya di kepengurusan Ma’had UIN jurusan Matematika, fakultas Sains dan teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang hari sabtu besok tanggal 14 Mei 2010 akan wisuda dan dia telah menyelesaikan tugas akhirnya (skripsi) dan ditulis dengan tiga bahasa (Arab-English dan Indonesia) sehingga ia mendapatkan beasiswa S-2 atas rekomendasi Rektor.

M. Nafi’ Jauhari Ulinnuha adalah sahabat saya yang selalu memberi motivasi agar saya memiliki cita-cita sukses tanpa batas. Ia selalu mengatakan pada saya bahwa dia ingin sukses tanpa batas. Saya bertanya kepadanya apa cita-citanya? dia hanya mengatakan cita-cita saya adalah sukses tanpa batas dan ingin menguasai dunia dengan empat hal dan saat ini dia telah menguasainya dengan sempurna:
1. Menguasai bahasa inggris,
2. Menguasai Bahasa Arab dan kitab kuning,
3. Menguasai Matematika dan
4. menguasai Teknik Informatika

Saya sangat salut dengan perjuangannya selama ini. Saya bertanya kepadanya apa yang telah ia lakukan selama ini sehingga ia bisa menguasai empat hal diatas, dia bilang kalau dia selalu belajar sesuatu yang baru, ia tidur sehari tidak lebih dari 5 jam dan tiap waktu dia selalu membaca buku dan mendatangi orang-orang pandai untuk bertanya. Ia belajar Nahwu pada Kiyai serta belajar bahasa inggris, komputer dan Matematika pada dosen dan teman-temannya yang dianggap lebih mampu, dia memperbanyak silaturrahim dengan tujuan bertanya segala sesuatu yang tidak diketauinya sehingga dengan hal itu dia menjadi menguasai dalam segala hal. Berbekal banyak bertanya maka dia saat ini telah sukses dalam beberapa hal.

Itulah salah satu contoh pengorbanan dan perjuangan yang dapat mengantarkan seseorang menuju kesuksesan. Sesuatu yang kita baca dan apa yang kita dengar, jika kita tidak tau bertanyalah karena dengan bertanya kita akan dapat ilmu pengetahuan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,”

Ayat diatas sangatlah jelas bahwa ketidaktahuan sesorang dalam sesuatu maka hendaklah ia bertanya kepada orang yang berilmu.

BELAJAR DARI PENGALAMAN DAN MEMILIH LINGKUNGAN BAIK

Pemikiran setiap orang sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi. Sehingga ia tidak bisa lagi melihat dan menilai sesuatu secara obyektif, apalagi pengalaman atau budaya tersebut dimiliki secara kolektif, maka suatu pemikiran suatu paham. Contohnya, kejadian Nicolaus Copernicus, Kepler dan Galileo Galilei yang dihukum dan ditentang karena menemukan teori “Matahari-Sentris”.

Pengalaman kehidupan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang yang berakibat pada terciptanya sosok manusia hasil pembentukan lingkungan sosialnya. Bisa dibayangkan apabila ia berada pada lingkungan sosial yang buruk, maka ia pun akan menjadi seseorang seperti lingkungan itu. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang (acceptance) dan keakraban dalam lingkungan keluarga, ia akan belajar hidup penuh dengan cinta dan bersahabat. Berbeda dengan lingkungan yang penuh celaan, hinaan, permusuhan, yang hanya akan menghasilkan manusia-manusia dengan pribadi labil dan kurang bermoral. Dalam suatu hadits pun dijelaskan tentang perumpamaan kawan yang baik dan buruk:
"Bagaikan pembawa misik (kasturi), dengan peniup api tukang besi, maka yang membawa misik, adakalanya memberimu atau anda membeli padanya, atau mendapat bau harusm darinya. Adapun peniup api tukang besi, jika tidak membakar bajumu, atau anda mendapat abau busuk daripadanya." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Pengalaman-pengalaman hidup, kejadian-kejadian yang dialami juga sangat berperan dalam menciptakan pemikiran seseorang, sehingga membentuk suatu “paradigma” yang melekat di dalam pikirannya. Seringkali paradigma itu dijadikan sebagai suatu “kaca mata” dan sebuah tolok ukur bagi dirinya sendiri, atau untuk menilai lingkungannya. Hal ini jelas akan sangat merugikan dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Ini akan sangat membatasi cakrawala berpikir, akibatnya ia akan melihat segala sesuatu secara sangat subyektif, ia akan menilai segalanya berdasarkan “frame” berpikirannya sendiri, atau melihat berdasarkan bayangan ciptaannya sendiri, bukan melihat sesuatu secara riil dan obyektif. Ia akan menjadi produk dari pikirannya. Ia akan terkungkung oleh dirinya sendiri. Kadang ia tidak menyadari sama sekali bahwa alam pikirannya itu sudah begitu terbelenggu.

Prinsip yang benarlah yang akan melindungi diri kita dari pengaruh pengalaman hidup, bukan “proaktif”, karena proaktif barulah sebuah metode untuk melihat sesuatu secara berbeda. Melihat sesuatu secara proaktif tanpa dilandasi suatu prinsip yang benar, hanya akan menjebloskan diri kita pada paradigma keliru lainnya, yang tidak kalah menyesatkan.
Kesimpulan dari apa yang penulis paparkan, bahwa kesuksesan selalu ada mulanya, tetapi tidak akan pernah ada kata akhir untuk berjuang. Kesuksesan akan terus bergerak dan menjangkau setiap sendi-sendi kehidupan. Terus berjuang untuk meraih kesuksesan dan jadilah yang terdepan yang siap menghadapi tantangan masa depan. Sukses tanpa batas bukanlah sukses hanya dalam satu harapan tapi sukses yang dapat meraih banyak hapan dan cita-cita.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.