LOGIKA MATEMATIKA DALAM SHALAT

Rahasia temuan angka yang ingin penulis paparkan disini diambil dari terjemahan kitab “Min al-I'jaz al-Balaghiy Wa al-'Adadiy li al-Qur’an al-Karim”, karya DR. Abu Zahra' An-Najdiy terbitan Al-Wakalah AI-'Alamiyyah li At-Tawzi, 1990.
Penulis mencoba mengkorelasikan dengan ilmu sains sehingga pembaca dapat memahami lebih dalam tentang keutamaan dan faidah yang besar dibalik perintah Allah yang terkandung dalam shalat.

Shalat lima waktu bagi umat Muhammad diwajibkan di malam Isra’ sebagaimana yang tercantum dalam Hadits riwayat Bukhori dalam bab shalat hadits ke 211. Tidak diragukan lagi bahwa isra' mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan kebenaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan keagungan kedudukan beliau di sisi-Nya, juga menujukkan kekuasaan Allah yang Maha Agung dan ketinggian-Nya di atas semua makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [Al-Isra’: 1]

Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara mutawatir, bahwa beliau naik ke langit, lalu dibukakan baginya pintu-pintu langit sehingga mencapai langit yang ketujuh, kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berbicara kepadanya dan mewajibkan shalat yang lima waktu kepadanya. Pertama-tama Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkannya lima puluh kali shalat, namun Nabi kita tidak langsung turun ke bumi, tapi beliau kembali kepada-Nya dan minta diringankan, sampai akhirnya hanya lima kali saja tapi pahalanya sama dengan lima puluh kali, karena suatu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Puji dan syukur bagi Allah atas semua nik'mat-Nya.

 LOGIKA 1: ISRA’ MI’RAJ

Kata 'araja dan turunan katanya dengan pengertian naik ke langit, di dalam Al-Quran disebut sebanyak tujuh kali sesuai dengan jumlah langit, yaitu tujuh. Perlu diketahui, bahwa kata tersebut digunakan oleh Al-Quran untuk mengungkapkan perjalanan jauh menembus luar angkasa, dan gravitasi bumi. Menurut sains modern perjalanan di sana hanya bisa dilakukan dengan cara melayang-layang (mun'arijat atau mun'athifat). Sesekali Al-Quran menggunakan kata yash'adu untuk burung yang terbang di udara (planet bumi) atau di sekitarnya, yaitu seperti disebutkan pada ayat-ayat berikut :
1. AI-Ma'arij: 4
2. Al-Sajdah: 5
3. Saba': 2
4. Al-Hadid: 4
5. AI-Flijr: 14
6. AI-Zukhruf: 33
7. Al-Ma'arij: 3

Begitupun kata "sab'u" berkaitan dengan kata "samawat", sebelumnya atau sesudahnya. Kata tersebut dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 7 kali. Begitu juga hari dalam seminggu berjumlah 7 hari, dan langit pun berjumlah 7. Berikut ini adalah ayat-ayat mengenainya:
1. Al-Baqarah: 29
2. Al-Isra: 44
3. Al-Mu'minun: 84
4. Fushshilat: 12
5. At-Thalaq: 12
6. AI-Mulk: 3
7. Nuh: 15

Dalam hal ini kita shalat berputar secara terus menerus dari senin sampai ahad dan kembali ke senin lagi dan kita pun shalat menghadap ka’bah dimana ka’bah juga disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali yaitu pada ayat¬-ayat berikut :
1. Al¬-Baqarah: 143
2. Al-Baqarah: 144
3. Al-Baqarah: 145
4. Yunus: 87
5. Al-Baqarah: 145
6. Al-Baqarah: 142
7. Al-Baqarah : 145

 LOGIKA 2: PERINTAH SHALAT

Dalam Al-Quran, kata yang berkaitan dengan Shalat/Shalawat disebut dalam lima ayat yang berbeda, sama dengan jumlah shalat wajib sehari semalam dalam waktu yang berbeda: shubuh, zuhur, asar, maghrib dan isya, yaitu di dalam ayat-ayat berikut:
1. Al-Baqarah: 157
2. Al-Baqarah: 238
3. At-Taubah: 99
4. Al-Haj: 40
5. Al-Mukminun: 9

Perintah shalat lima waktu tersebut memiliki jumlah roka’at sebanyak 17 kali (4x3 + 3 + 2 = 17). Hal ini sesuai dengan kata kerja perintah (fi'l al-amr) "aqim" atau "aqimu" (dirikanlah) yang diikuti dengan kata "shalat" disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu (17 rakaat). Yang mendukung hal demikian adalah disebutkannya kata "fardh" dengan berbagai turunan katanya yang disebut sebanyak 17 kali, hal ini sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu dalam sehari semalam. Ayat-ayat yang memuat kata shalat yang digabungkan dengan kata kerja perintah "aqim" atau "aqimu" adalah sebagai berikut:
1. Al-Baqarah: 43
2. Ali Imran: 83
3. AI-Baqarah: 110
4. An-Nisa: 77
5. An-Nisa: 103
6. Al-An'am: 72
7. Yunus: 87
8. Yunus: 78
9. Al-Isra: 78
10. Thaha: 14
11. Al-Haj: 78
12. Al-Nur: 56
13. Al-Ankabut: 45
14. Al-Rum: 30
15. Luqman: 18
16. AI-Mujadilah: 13
17. AI-Muzammil: 20

Berikut adalah kata "faradha" beserta turunan katanya dengan pengertian faridah(kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan) di dalam Al¬-Quran disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat, seperti tercantum di dalam ayat-ayat berikut:
1. Al-Baqarah: 197
2. AI-Qashash: 85
3. Al-Ahzab: 38
4. Al¬ Tahrim: 2
5. Al-Baqa¬rah: 237
6. Al-Baqarah: 237
7. Al-Ahzab: 50
8. Al-Nur: 1
9. Al-Baqarah: 236
10. AI-Baqarah: 236
11. Al-Baqa¬rah: 237
12. An-Nisa: 11
13. Al-Nisa: 24
14. An-Nisa: 24
15. At-Taubah: 60
16. An-Nisa: 7
17. An-Nisa: 7

 LOGIKA 3: RAKAAT SHALAT DAN SUJUD

Setelah kita mengetahui bahwa jumlah ayat sesuai kata kerja perintah (fi'l al-amr) "aqim" atau "aqimu" (dirikanlah) yang diikuti dengan kata "shalat" disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah kata "fardh" yang berkaitan dengan perintah shalat fardhu (17 rakaat), maka kita akan menemukan bahwa kata sujud yang dilakukan oleh mereka yang berakal disebutkan sebanyak 34 kali. Jumlah tersebut sama dengan jumlah sujud dalam shalat sehari¬-hari yang dilakukan pada lima waktu sebanyak 17 rakaat. Pada setiap rakaat dilakukan dua kali sujud sehingga jumlahnya menjadi 34 kali sujud sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut:
1. Al-Baqarah: 34)
Ayat ini merupakan ayat ketiga puluh empat pada surat Al-Baqarah, yaitu surat dalam mushaf yang pertama yang menyebutkan masalah sujud yang jumlahnya sama dengan jumlah sujud keseharian.
2. Al-Araf: 11
3. AI-Isra: 61
4. Al-Kahfi: 50
5. Thaha: 116
6. AI-Hajj : 77
7. Al-Furqan: 60
8. Fushshilat: 47
9. Al-Najm: 62
10. Ali Imran: 43
11. Al-Hijr: 30
12. Shad: 73
13. Al-Baqarah: 24
14. An-Nisa: 102
15. Al-A'raf: 11
16. Al-Isra: 61
17. AI-Kahfi: 61
18. Taha: 116
19. Al¬ Hijr: 33
20. Al-Isra: 61
21. AI-A'raf: 12
22. Shad: 75
23. Fushilat: 37
24. Al-Furqan: 60
25. AI-Ra'd: 15
26. Al-Nahl: 49
27. Al-Haj: 18
28. Al-Naml: 25
29. Ali Imran: 113
30. Al-A'raf: 206
31. Al-Naml: 24
32. Al-Insyihaq: 21
33. AI-Insan: 26
34. AI-Alaq: 19

Dalam Al-Quran tidak ada kata sujud yang dihubungkan dengan makhluk yang tidak berakal, kecuali satu ayat saja, yaitu dalam firman Allah SWT:

“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-keduanya sujud kepada-Nya.” (Al-Rahman: 6).

Selain dalam ayat tersebut, 34 kata kerja (fi'il) sujud semuanya dihubungkan dengan makhluk berakal.

 LOGIKA 4: SHALAT FADHU DAN SUNAT

Kata shalat berikut turunan katanya, disertai dengan kata qiyam berikut turunan katanya, dalam Al-Quran disebut 51 kali. Jumlah ini sebanding dengan jumlah rakaat shalat, yaitu 17 rakaat shalat wajib yang lima, ditambah dengan 34 rakaat shalat sunat - jika shalat sunat fajar (shubuh) dipandang dua rakaat, delapan sunat rakaat shalat zhuhur, delapan rakaat shalat ashar, empat rakaat shalat maghrib, dan sunat isya dipandang satu rakaat dari dua rakaat dengan satu duduk, ditambah dengan 11 rakaat sunat malam, sehingga jumlahnya lengkap 34 rakaat. Dengan demikian, maka jumlah keseluruhan shalat tersebut dengan ditambah 17 rakaat shalat wajib menjadi 51 rakaat. Kata-kata tersebut terdapat dalam ayat-ayat berikut:
1. At-Taubah; 84
2. Ali Imran: 39
3. AI-Baqarah: 3
4. AI-Baqarah: 43
5. Al-Baqarah: 83
6. AI-Baqarah: 110
7. Al-Baqarah: 177
8. Al-Baqarah: 277
9. An-Nisa: 77
10. An-Nisa: 102
11. An-Nisa: 103
12. An-Nisa: 103
13. An-Nisa: 142
14. An-Nisa: 162
15. AI-Maidah: 6
16. Al-Maidah:12
17. AI-Maidah: 55
18. Al-An'am: 72
19. Al-A'raf: 170
20. Al-Anfal: 3
21. At-Taubah: 5
22. At-Taubah: 11
23. At-Taubah: 18
24. Al-Taubah: 71
25. Yunus: 87
26. Hud: 114
27. Al-Ra'd: 22
28. Ibrahim: 31
29. Ibrahim: 37
30. Ibrahim: 40
31. AI-Isra: 78
32. Thaha: 14
33. Al-Anbiya: 73
34. Al-Haj: 35
35. Al-Haj: 41
36. At-Taubah: 78
37. Al-Nur: 37
38. AI-Nur: 56
39. Al-Naml: 3
40. Al-Ankabut: 45
41. AI-Rum: 31
42. Luqman: 4
43. Luqman: 18
44. Al-Ahzab: 33
45. Fathir: 18
46. Fathir: 18
47. Al-Syura: 38
48. AI-Mujadilah: 13
49. Al-Muzammil: 20
50. Al-Bayyinah: 5
51. Al-Baqarah: 125

Semua itu merupakan karunia Allah yang membuktikan secara jelas kebenaran mazhab fiqih yang memandang bahwa bilangan shalat sunnat sehari semalam 34 rakaat.

 LOGIKA 5: SUJUD

Di dalam “The Human Body” di katakan bahwa pada umur 80 tahun, manusia mendapat jatah darah sebanyak 40.000 liter.
Dalam 1 tahun kita mendapat jatah darah sebanyak:
40.000 liter : 80 = 500 liter
Jadi dalam sehari kita mendapat jatah darah sebanyak:
500 liter : 360 = 1,4 liter
Kita sudah di syari’atkan untuk sholat lima waktu sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, yaitu 17 roka’at, tiap roka’at ada 2 kali sujud. Jadi dalam 1 hari kita sudah di syari’atkan untuk bersujud sebanyak:
2 x 17 = 34 kali.
Jatah darah yang yang di berikan untuk tiap kali bersujud:
1,4 : 34 = 0,04 liter.
Dalam interval waktu 24 jam : 34 = 42 menit
42 menit
Jatah darah 0,04 liter
Jika kita tidak bersujud pada interval 42 menit itu, maka darah yang 0,04 liter itu tidak di berikan ke otak, tetapi ke paha, ke lengan. (KH. Fahmi Basya: Flaying Book 187)
Jadi orang yang tidak bersujud, makanya untuk paha, bukan untuk otak, makan untuk paha ini seperti hewan ternak (Al-An’am).
Dan orang yang tidak bersujud ialah orng kafir:

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad, ke 47 ayat 12)

Ketika bersujud, otak paling depan berada di paling bawah. Ia akan lebih banyak di beri makan dan ternyata otak depan kita yang paling canggih. Ingatlah jatah 0,04 liter itu harus di berikan kepada otak depan bukan untuk paha atau lengan.

Dalam penelitian yang likakukan Prof. John Hodges di Hospital Cambridge mengatakan bahwa otak depan merupakan bagian otak yang membuat setiap orang berbeda secara individual. Ini sangat penting untuk temperamen, interaksi sosial, dan gaya pribadi setiap orang. Semua itu tergantung pada otak depan. Jadi tidak heran kalau sedekat-dekat hamba pada tuhanya ketika ia bersujud. Tanpa otak manusia tidak mungkin mengabdi dan ia akan seperti binatang.

Rasulullah SAW bersabda: “Sedekat dekat seorang hamba pada tuhan-Nya ketika ia bersujud” (HR. Shahih Muslim).

 KESIMPULAN

Suatu kegiatan fisik akan lebih mudah diingat, dibandingkan dengan hanya kegiatan pikiran, apalagi kegiatan fisik itu dilakukan secara berulang-ulang, maka hal ini akan menciptakan suatu pengalaman yang nyaris tak terlupakan. Ketika secara fisik seorang melakukan shalat maka kegiatan itu akan membekas pada ingatan. Kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menciptakan suatu kebiasaan (habit), dan kebiasaan secara berulang-ulang akan menciptakan suatu pengalaman yang berujung pada pembentukan karakter. Di setiap 1 raka’at shalat memiliki 2 sujud yaitu meletakkan kening di atas lantai. Ini suatu pengakuan yang tidak hanya dilakukan secara pikiran tetapi juga dilaksanakan secara fisik, bahwa kita hanya menyembah kepada Allah SWT dan tidak ada yang lain yang patut disembah. Inilah salah satu pelatihan wujud integritas dan komitmen yang sesungguhnya. Komitmen antara seorang manusia dengan Tuhannya Yang Maha Besar. Apabila kegiatan ini dilakukan seumur hidup, kita bisa bayangkan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkannya melalui metode shalat ini akan sungguh luarbiasa apabila ia memahami maknanya.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Tubuh manusia mengandung sistem kelistrikan. Mulai dari mekanisme otak, jantung, ginjal, paru-paru, sistem pencernaan, sistem hormonal, otot-otot dan berbagai jaringan lainnya. Semuanya bekerja berdasar sistem kelistrikan. Karena itu kita bisa mengukur tegangan listrik di bagian tubuh mana pun yang kita mau. Semuanya ada tegangan listriknya. Bahkan setiap sel di tubuh kita memiliki tegangan antara -90 mvolt pada saat rileks sampai 40 mvott pada saat beraktifitas.

Tubuh kita boleh disebut sebagai sistem elektromagnetik. Sebab, kelistrikan sangat erat kaitannya dengan kemagnetan. Otak kita memiliki medan kemagnetan. Sebagaimana jantung ataupun bagian-bagian lain di tubuh kita.

 SISTEM SYARAF

a. Sistem Saraf Pusat :
Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer.
Saraf perifer :
 Afferen : mengirim informasi ke otak / medula spinalis
 Eferen : dari otak atau medula spinalis ke otot dan kelenjar
b. Sistem Saraf Otonom :
Mengatur organ dalam tubuh seperti jantung, usus dan kelenjar secara tidak sadar.

Berikut adalah konsentrasi ion di dalam dan diluar sel:


 KELISTRIKAN SARAF

 Kecepatan impuls serat syaraf : serat syarat berdiameter besar, kemampuan menghantarkan impuls lebih cepat dari yang berdiameter kecil
 Serat syarat ada 2 type :
1. Bermyelin :
Banyak terdapat pada manusia. Suatu insulator yang baik, kemampuan mengaliri listrik sangat rendah. Aliran sinyal dapat meloncat dari satu simpul ke simpul yang lain.
2. Tanpa Myelin :
 Akson tanpa myelin diameter 1 mm kecepetan 20 -50 m/s.
 Akson bermyelin diameter 1 μm kecepatan 100 m/s.

Dalam keadaan normal:

Na + diluar sel > Na + di dalam sel

Diukur dengan Galvanometer -90 mVolt à Polarisasi
Berikut adalah gambar proses kelistrikan sel saraf otak manusia:
 SISTEM KELISTRIKAN DALAM TUBUH

A. Sinapsis Dan Neuromyal Junction
 Sinapsis : Hubungan antara 2 buah syaraf.
 Neuromyal Junction : Berakhirnya saraf pada sel otot.
Sinapsis dan Neoromyal Junction ini memiliki kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang lain.
Pada saat depolarisasi, zat kimia pada otot bergetar/trigger à Kontraksi otot, repolarisasi à Relaksasi otot.

B. Kelistrikan Otot Jantung
 Otot Jantung (miokardium) berbeda dengan syaraf dan otot bergaris.
Ion Na+ mudah bocor sehingga setelah repolarisasi, ion Na+ akan masuk kembali ke sel à Depolarisasi spontan.
(nilai ambang dan potensial aksi tanpa memerlukan rangsangan dari luar).
Sel otot jantung akan mencapai nilai ambang dan potensial aksi pada kecepatan yang teratur à Natural Rate/kecepatan dasar membran sel.
Untuk menentukan natural rate dihitung dari mulai depolarisasi spontan sampai nilai ambang setelah repolarisasi. Yang mempengaruhi :
1. Potensial membran istirahat.
2. Tingkat dari nilai ambang.
3. Slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang.
Ada sekumpulan sel utama yang secara spontan menghasilkan potensial aksi yang akan dengan cepat mendepolarisasi sel otot miokardium yang sedang mengalami istirahat à Pace Maker / perintis jantung.

 ELEKTRODA

 Untuk mengukur potensial aksi dengan memindahkan transmisi ion ke penyalur elektron
 Bahan yang dipakai perak dan tembaga
Bahan elektroda :
1. Dapat disterilkan.
2. Tidak mengandung racun.
Biasanya Perak ( Ag ) ditutupi lapisan tipis perak Chlorida ( AgCl ).
 Perbedaan potensial sebesar 0,80 – 0,34 = 0,46 V, dijumpai apabila kedua elektroda disambungkan pada kedua tangan penderita.

 Macam Elektroda
1. Elektroda Jarum ( Mikro elektroda )
Untuk mengukur aktivitas motor unit tunggal.

2. Elektroda Mikropipet
 Dibuat dari gelas dgn diameter 0.5 μm. Untuk mengukur potensial biolistrik di dekat/dalam sebuah sel.
 Dapat menyalurkan elektroda dalam sebuah sel. Tahanan 10 MΏ.

3. Elektroda permukaan kulit.
Terbuat dari metal/logam yang tahan karat,misal perak,nikel atau alloy.
a) Bentuk plat.
 Dipakai untuk mengukur potensial listrik permukaan tubuh EKG, EEG, dan EMG.
 Dipakai tahun 1917 à didaerah yg dipasangkan elektroda digosok dengan saline solution (air garam fisiologi). Diganti dengan Jelly atau pasta (elektrolit).
b) Bentuk Suction Cup
Dipakai waktu melakukan EKG.
c) Bentuk Floating
Type elektroda ngambang, agar mencegah kontak langsung antara logam dengan kulit.
d) Bentuk Ear Clip
Suatu elektroda sbg referensi pada EEG dan EKG.
e) Bentuk Batang
Suatu elektroda sbg referensi pada EEG dan EKG.

 ENERGI LISTRIK à ENERGI CAHAYA

Sistem kelistrikan dalam tubuh manusia sesuai konsep ilmiah dapat memancarkan cahaya (aura). Sistem kelistrikan ini dibagi menjadi generator-generator energi yang disebut sebagai cakra. Ada 7 cakra utama yang banyak dipelajari, dan terletak di sepanjang ubun-ubun turun ke arah tulang belakang, sampai ke tulang ekor.
Ke tujuh cakra utama itu dikenal sebagai Cakra Mahkota, letaknya di ubun-ubun, Cakra Tenggorok di leher, Cakra Jantung di sekitar jantung, Cakra Solar Pleksus ada di atas pusar, Cakra Seks ada di bawah pusar, dan Cakra Dasar di tulang ekor.

Cakra ini dipersepsi sebagai wilayah tubuh yang menjadi pusat pembangkitan energi. lni memang konsep Kedokteran Timur. Sebagaimana Tusuk Jarum. Bahwa titik-titik tertentu di dalam tubuh manusia memiliki kemampuan menghasilkan energi atau terkait dengan sistem energial secara holistik. Dan secara ilmiah, memang telah bisa dibuktikan adanya tegangan listrik diantara organ-organ tertentu di dalam tubuh manusia seperti yang telah dijelaskan diatas.

Ke tujuh cakra utama itu secara empirik telah dibuktikan fungsi dan pengaruhnya. Meskipun masih perlu diteliti terus secara lebih mendalam. Di antaranya, cakra dasar adalah cakra yang disebut-sebut sangat berpengaruh pada munculnya warna merah pada aura seseorang.

Padahal sebagaimana kita ketahui, warna merah adalah warna yang menunjukkan sifat-sifat emosional, jiwa yang tertekan, ketergesa-gesaan, perhatian pada dunia fisik secara berlebihan, dan keberanian mengambil resiko. Maka berarti cakra dasar adalah cakra yang bertanggung jawab terhadap munculnya sifat-sifat tersebut.

Cakra kedua adalah cakra Seks. Cakra ini dikenal sebagai pusat munculnya warna jingga alias oranye. Disinilah pusat kreatifitas fisik. Warna jingga yang dominan menunjukkan sifat ketertarikan pada penampilan diri secara fisik. Baik diri sendiri maupun orang lain.
Orang yang memiliki warna jingga suka berdandan dan menjadi pusat perhatian. Ia senang bergaul dan bersifat hedonistik alias suka bersenang-senang.

Cakra ketiga disebut Cakra Solar pleksus, letaknya di atas pusar. Ia adalah pusat energi yang bertanggungjawab terhadap munculnya warna kuning. Warna ini menunjukkan sifat-sifat egoistik dan ambisi.
Orang yang memiliki warna kuning memiliki ambisi dan cita-cita kuat untuk menjadi penguasa. Energik dan cerdik. Tapi warna ini juga berkait erat dengan tingkat stress yang tinggi.

Cakra ke empat adalah Cakra Jantung, bertanggungjawab terhadap munculnya warna hijau. Di sini muncul getaran-getaran halus yang berkait dengan sifat-sifat lemah lembut. Rasa empati dan kasih sayang, muncul dari generator energi di sini.

Cakra ke lima adalah Cakra Tenggorokan. lnilah cakra penghasil warna biru. Jika cakra ini aktif, maka tubuh kita akan didominasi warna biru. Warna ini erat kaitannya dengan keilmuan dan rasionatitas. Perlumbuhan dan progresifitas. Keinginan mencari realitas hakikat. Makna hidup.

Cakra ke enam berada di kening. Sering disebut sebagai Cakra Mata Ketiga. Generator energi ini menghasilkan warna nila. Ia menggambarkan munculnya intuisi dan spiritualitas pada pemilik aura tersebut. Ia semakin tertarik kepada realitas-realitas di 'dunia dalam'. Inner cosmos. Hal-hal gaib.

Cakra ke tujuh berada di ubun-ubun, menghasilkan warna ungu. Warna ini menunjukkan intensitas spiritualitas yang tinggi. Perhatiamya kepada hal-hal yang bersifat duniawi sangat rendah. Ia lebih tertarik kepada meditasi, tafakur, berdzikir, menyendiri, mencari hubungan dengan Tuhan, dan hal-hal yang bersifat spiritual.

Warna ini sering juga muncul pada para seniman yang sedang asyik menuangkan karya-karyanya. Atau pada para ilmuwan yang sedang asyik meneliti rahasia alam. Membuka tabir keilmuan semesta.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap aktifitas seseorang akan mempengaruhi terhadap pancaran gelombang elektomagnetik yang ditimbulkan dari dalam tubuhnya. Pancaran cahaya tertinggi adalah bagi mereka yang senantiasa meningkatkan kualitas spiritualitasnya karena pada dasarnya manusia memiliki dimensi cahaya yang bersemayam sebagai ruh. Ruh inilah unsur ketuhanan yang melekat pada setiap manusia.

“Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr: 29)

Potensi ruh yang ada pada setiap manusia sesungguhnya dapat membangkitkan energi listrik dalam tubuhnya. Jantung sebagai generator utama penentu kualitas cahaya yang dipancarkan keluar. Cahaya itulah yang dimaksud sebagai cahaya iman.
Allah SWT. berfirman dalam surat ke 66, At-Tahrim ayat 8:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Tahriim: 8)
Ayat tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa dengan adanya sistem kelistrikan dalam tubuh, maka seseorang dapat meningkatkan kualitas cahaya tubuhnya dengan memperbanyak ibadah dan amal shaleh.

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (Dikatakan kepada meraka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar". (QS. Al-Hadiid: 12)
Sekalipun ayat diatas menjelaskan tentang keadaan orang beriman di surga tapi pada hakekatnya adalah manifestasi dari apa yang dilakukan di dunia. Cahaya hang terpancar dari dalam tubuh manusia hanya dapat di lihat dengan alat bantu teknologi yang dikembangkan saat ini.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.