KHAUL DAN BERKUMPUL MAKAN-MAKAN

KATA PENGANTAR

Dengan segala keterbatasan, saya mencoba untuk menulis kembali beberapa masalah yang berhubungan dengan hukum agama terutama masalah yang berkaitan dengan khaul yang sudah menjadi tradisi mayoritas masyarakat indonesia pada umumnya dan masyarakat madura pada khususnya.

Tulisan ini saya ambil dari buku “PERINGATAN KHOL, BAGAIMANA SEBENARNYA MENURUT HUKUM ISLAM”, terdiri dari 180 halaman yang diterbitkan oleh “PUSTAKA ABD. MUIS BANGIL”, karangan Drs. Imron Abdul Manan. Buku tersebut merupakan TANGGAPAN dari buku yang sebelumnya dengan judul “PERINGATAN KHAUL BUKAN DARI AJARAN ISLAM ADALAH PENDAPAT YANG SESAT”, ditulis oleh Drs. Imron Abu Amar, penerbit “MENARA KUDUS”, dengan 9 Bagian atau Bab permasalahan yang terdiri dari 105 halaman, Tahun 1980. Buku tersebut secara tidak langsung merupakan SANGGAHAN atas buku sebelumnya “PERINGATAN KHAUL BUKAN DARI AJARAN ISLAM” oleh Drs. Imron AM dengan 13 Bagian atau Bab permasalahan hukum Agama, yang diterbitkan BINA ILMU SURABAYA, Tahun 1977, terdiri dari 180 halaman.

Oleh karena itu, saya menulis kembali beberapa permasalahan yang diambil dari buku “PERINGATAN KHOL, BAGAIMANA SEBENARNYA MENURUT HUKUM ISLAM” tanpa mengurangi atau menambah sedikitpun dari keterangan di dalamnya sehingga seakan menjadi sebuah dialog interaktif antara ke dua pendapat yang kontroversi tersebut dengan harapan pembaca lebih mudah memahami dan mengambil kesimpulan mana pendapat yang lebih kuat (benar) dan mana pendapat yang lemah serta lebih obyektif dalam mengambil sebuah kesimpulan hukum berdasar atas sumber referensi (maraji’) yang lebih kuat di antara ke dua buku tersebut.

Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, karena dengan adanya pendapat yang berbeda berarti ruang lingkup penalaran kita akan semakin luas.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Salah satu di antara beberapa bentuk acara yang terdapat di dalam upacara peringatan khaul yaitu berkumpul makan-makan dengan maksud amal shadaqoh dan atau menghormat kepada para tamu yang telah hadlir.

1. Makan-makan Ketika Terjadi Kematian
Adalah merupakan suatu kenyataan bahwa sering kali dijumpai pada saat terjadi kematian seseorang maka ahli mayit memberikan jamuan makan-makan, baik ini terjadi sebelum si mayit diberangkatkan ke kubur ataupun sesudah selesai di kubur.
Persoalan ini sering menimbulkan pembicaraan ramai di tengah-tengah masyarakat Islam antara yang pro dan yang kontra, antara yang setuju dan yang menentang.
Sebelum keputusan hukum diambil, maka baik sekali bilamana diteliti terlebih dahulu tentang latar belakang yang menyebabkan timbulmnya persoalan tersebut, antara lain sebagai berikut :
a. Kalau memang benar, bahwa harta atau uang yang dipergunakan untuk membuat makanan-makanan itu berasal dari harta atau uang yang dipaksa-paksakan, baik yang diperoleh dari usaha berhutang-hutang atau bahkan sampai berani menggunakan harta hak milik anak yatim, maka jelas hal ini dilarang oleh agama.
Kejadian yang seperti inilah yang sering dilihat oleh para shahabat pada masa lalu, sehingga dikalangan mereka (para shahabat) mengeluarkan pernyataan sebagaimana kata shahabat Jarir bin Abdullah Al-Bajally:

كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنعةالطعام بعد دفنه من النياحة (رواه أحمد وابن ماجة)

“Adalah kita (para shahabat) menganggap, bahwa berkumpul di rumah ahli mayit dan membuat makanan sesudah si mayit ditanam, itu termasuk hukum meratapi mayit.” (H.R. Ahmad dan Ibn. Majah). 103)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

103 Nampaknya anda terlalu berani dalam mengambil kesimpulan, sehingga secara berani pula, “pendapat anda sendiri” tapi anda nisbatkan sebagai pendapat para Sahabat Nabi.
Hadits itu (riwayat Jarir bin Abdullah), inti ma’nanya menerangkan, bahwa mereka (para Sahabat Nabi) sepakat, “kumpul-kumpul, makan-makan di rumah ahlil mayit sesudah menanam, adalah termasuk niyahah, yakni haram seperti haramnya niyahah (meratapi mayit)”.


Dari mana, dari kitab apa, anda dapat menyimpulkan, bahwa sebab musabab samapi diharamkan oleh para Sahabat itu lantaran mereka dalam menyelenggarakan upacara itu hasil dari hutang, memaksa-maksa diri dsb. ? Mengapa hal yang begini prinsipil, anda karang sendiri?
Perhatikanlah :

Imam Nawawi yang pentolan pengikut Madzhab Syafi’i, dalam Kitabnya, Syarah Muahdzab, antara lain mengatakan demikian :

قال صاحب الشامل وغيره : وأما اصلاح أهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شيئ ، وهو بدعة غير مستحبة ويستدل لهذا بحدث جرير ابن عبد الله ر ض قال : كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياح (روه أحمد وابن ماجه با سناد صحيح / النووي ، المجموع شرح المهذب جزء ٥ ص ٢٨٦)

“Berkatalah pengarang As Syamil dll., “adapun penyediaan makan oleh ahlil mayit serta kumpul-kumpulnya manusia untuk acara itu, maka hal itu tidak mempunyai dasar sedikitpun, dan amalan itu termasuk bid’ah yang tidak disunnatkan, dan ini berdasarkan hadis riwayat Jarir bin Abdillah ra yang berkata : kami mengnggap berkumpul di rumah ahlil mayit dan membikin makanan itu sama dengan niyahah.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah). (Lihat : Imam Nawawi, Al MAJMU’, Syarah Muhadzab V/286).


Pendapat-pendapat yang sama seperti itu terdapat dalam Kitab-kitab Fiqih Syafi’iyyah, seperti:
1. Mughnil Muhtaj, Juz I, hal. 268.
2. Hasyiyah Qalyubi, Juz I, hal. 353.
3. ‘Inatut Thalibin, juz II, hal. 145-146
4. Al UM, Imam Syafi’i, juz I, hal. 248\
5. Al Fiqhu Alal Mudzahibil Arba’ah, jus I, hal. 539.
6. Dll.

Di dalam Kitab Fiqih AL MADKHAL, karangan Ibnul Haj, antara lain disebutkan demikian :

فمابالك بمااعتاده بعضهم في هذالزمان ؟ من أن أهل الميت يعملون الطعام ثلاث ليال ويجمعون الناس عليه عكس ما حكي عن السلف رضي الله عنهم . فليحذر من فعل ذلك فإنه بدعة مكروهة (ابن الحاج المدخل : ٣/٢٧٩)

Bagaimana upayamu terhadap apa yang dibiasakan oleh sebagian mereka pada zam ini? Bahwa ahlil mayit membikin makanan sampai tiga hari lamanya dan orang-orang pun berkumpul di situ, yang bertolak belakang dengan amalan golongnan Salaf ra. Waspadalah terhadap amalan yang demikian itu, sebab amalan tersebut adalah bid‘ah yang tidak disukai”. (Ibnul Haj, Al MADKHAL, juz III, hal. 289).
Coba renungkan pada kata Ibnul Haj berikut ini :

وتلك القبائح والمفاسد موجودة في الإجتماع للثالث والسابع وتمام الشهر و تمام السنة وفي أي موضع فعل ذلك فيه من بيت أو قبر أو غيرهما كل ذلك يمنع (المد خل : ٣/٦٩٣)

“Keburukan-keburukan dan mafsadah-mafsadah itu, terdapat pada kumpul-kumpul pada hari ke tiga dan ke tujuh serta sempurnanya sebulan dan setahun, di mana pun dikerjakan amalan itu, baik di rumah ,di kuburan atau di tempat lainnya, semuanya itu adalah terlarang.”
(AL MADKHAL, juz III, hal. 293)


Mengapa anda di sana sini hanya menyebut-nyebut Ibnu Taimiyah saja ? Itu kan tidak obyektif ?

 Pendapat Drs. Imron ABA :

b. Tetapi jika makanan-makanan yang dibuat dan disuguhkan oleh ahlinya si mayit itu adalah berasal dari harta atau uang hak milik pribadi salah seorang keluarganya (anak atau saudara si mayit) yang ikhlas dikeluarkan untuk bershadaqoh maka ini dibenarkan oleh agama. Karena hal ini jelas merupakan usaha yang termasuk amal baik anak kepada orang tua atau amal baik yang dikeluarkan oleh salah seorang saudara untuk saudaranya. 104)
c. Apalagi kalau makanan-makanan yang dibuat itu bertujuan untuk menghormati kepada para tamu, baik yang diundang maupun yang tidak, maka ini oleh agama dibenarkan.

Rasulullah saw bersabda :

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فاليكرم ضيفه (رواه البخاريي ومسلم)

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia harus memuliakan tamunya (H.R. Bukhari dan Muslim)”

Dalam Hadits Nabi yang shaheh ini, jelas sekali dikatakan bahwa orang yang memuliakan tamu itu diperintahkan oleh Nabi, dengan demikian maka Islam membenarkan setiap pemeluknya melakukan bentuk amalan yang bertujuan memuliakan tamu, sebagaimana pula yang dikerjakan oleh para ahli mayit, dalam membuat makanan yang disuguhkan kepada para tamu secara bersama-sama atau berkumpul. (105)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

104 – 105. Anda tentu sependapat dengan saya, bahwa seorang insan yang paling tahu tentang Agama (baca : Islam), tentang amal saleh, tentang ridla Allah adalah yang bernama MUHAMMAD SAW.


Nabi saw dan Sahabat-sahabatnya pun tahu, seberapa besar pahala “sedekah dan menghormat tamu”, tapi toh mereka tetap memandang, bahwa kumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit itu sama hukumnya dengan niyahah yakni “haram”.
Dan kalau menghidangkan makanan itu diniatkan “sedekah” maka terjadilah “Talbisul haq bil bathil” (mencampur aduk yang haq dengan yang bathil). Sebab sedekah itu disunatkan, sedang hidangan itu sendiri “haram” menurut kesepakatan Shahabat.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

d. Satu lagi yang sering terjadi selama ini, dan sering pula orang salah penglihatanya yaitu adanya sekedar makan-makan di rumah ahli mayit yang makanan-makanan itu dibuat dengan bahan atau justru makanan yang berasal dari para tetangga yang diberikan kepada ahli mayit, kemudian dikeluarkan untuk menjamu para tamu yang hadir.
Amalan yang semacam ini (yakni membuat makanan untuk makan-makan berkumpul yang berasal dari tetangga dan terus dimasak oleh ahli mayit, kemudian dikeluarkan untuk menyuguh para tamu) adalah yang sering kali terjadi di kalangan masyarakat. Namun kadang-kadang orang salah penglihatan, karena bukti nyata, mata melihat, bahwa makanan itu dibuat (dimasak), dikeluarkan dan disuguhkan dari dan dirumahnya ahli mayit, dengan gampang memberikan keputusan, bahwa bagaimanapun makanan tersebut adalah berasal dari ahli mayit sendiri, lain tidak. Disinilah letak kekeliruan pendapat sementara orang, yang dengan kelicikan membohongi ummat agar mereka dapat pengaruh. Bukan mencari pokok permasalahan yang semestinya.


Apa yang dikerjakan ummat selama ini, yaitu makan-makan di rumah ahli mayit dengan makanan yang sebenarnya berasal dari para tetangga dan handaitaulan, adalah dibenarkan oleh ajaran Islam.

Nabi sendiri justru menganjurkan amalan yang semacam ini, sebagaimana yang diterangkan dalam Hadits :

قال عبدالله بن جعفر: لماجاء نعي جعفر حين قتلِِ , قال النبي صلى الله عليه وسلم اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد أتاهم ما يشغلهم . (رواه أحمد وأبو داود والترميذي وابن ماجه والشافعي والطبراني)

“Berkata Abdullah bin Ja’far : Ketika tersiar berita terbunuhnya, maka kemudian Nabi bersabda: ‘Hendaklah kamu membuat makanan untuk keluarga Ja’far, sebab mereka sedang ditimpa perkara yang menyusahkan.”
(H.R. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn. Majah, Syafi’i dan Tabrani).

Hadits ini dapat diambil pengertian bahwa, apabila terjadi seseorang meninggal dunia maka bagi tetangga (jiran) dianjurkan untuk memberikan makanan-makanan kepada ahli mayit yang ditinggalkan. 106)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

106. Anda sekian kali memutar balik dan mengaburkan ma’na hadis atau ayat. Hadis ini sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan kumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit.


Hadis Abdullah bi ja’far ini ma’nanya, bahwa “tatkala berita kematian Ja’far telah sampai, maka Nabi saw memerintahkan kepada kaum muslimin, agar membantu membikinkan makanan untuk keluarga Ja’far, sebab keluarga itu sedang ditimpa musibah”.
Jadi jelas hadis ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan penyelenggaraan makan-makan dirumah ahlil mayit seperti keterangan anda.
Imam Syafi’i sendiri mengambil dalil hadis itu, dalam kitabnya AL UM, antara lain beliau mengatakan demikian :

قال الشا فعي : ويستحب لجيران الميت أوذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعاما ما يشبعهم وإن ذلك سنة (الشا فعي الام ١: ٢٤٧)

“Disunatkan bagi tetangga mayit atau kerabatnya, agar membikinkan makan bagi keluarga mayit untuk keperluan sehari semalam, yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena hal itu sunnah” (As-Syafi’i, AL UM, juz 1, hal. 247).

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Dalam Hadits Nabi ini sama sekali tidak terdapat larangan bahwa makanan yang dari jiran tersebut tidak boleh dikeluarkan oleh ahli mayit guna menyuguh para tamu yang hadir. Hal ini menunjukkan bahwa makan yang dari jiran adalah boleh disuguhkan kepada tamu itu, malahan bisa jadi jiran memperoleh pahala ganda karena di samping makanannya diberikan kepada ahli mayit karena sedang ditimpa kesusahan juga makanannya itu kemudian untuk menghormati tamu. 107)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

107. Itu pendapat anda. Dan ternyata pendapat anda itu bertentangan dengan pendapat-pendapat dalam Kitab-kitab Fiqih Syafi’iyah, bahkan bertentangan dengan IJMA’ SAHABAT.
Tentang haramnya kumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit itu adalah telah menjadi ijma’ Sahabat, sebab Jarir menggunakan kaka-kata KUNNA (=KAMI), dan tidak ada seorang pun Sahabat yang menentang.
Mengapa anda dengan berbagai dalih, berani menentang ijma’ Sahabat Nabi saw ?

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Imam Syafi’i, rahimahullah berkata dalam sebuah kitabnya bahwa:

قل الشافعي: ويستحب لجيران الميت أوذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعا ما يشبعهم وإن ذلك سنة (الأم : ١ / ٢٤٧)
“Imam Syafi’i berkata : ‘dan disunnahkan bagi jiran (tetangga) atau keluarganya, agar membuat makanan untuk ahli mayit pada hari terjadi kematian dan malamnya, makanan yang mengnyangkan mereka, karena itu adalah sunnah (maksudnya amalan Nabi).’ ”
(Al-Um I/247). 108)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

108. jadi yang “sunnah” menurut Imam Syafi’i adalah membantu membikinkan makanan untuk ahlil mayit, bukannnya ahlil mayit itu yang menyelenggarakan upacara, lalu mengundang orang banyak makan-makan di rumahnya. Inilah yang tidak anda fahami, yang justru anda balik.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Berdasarkan semua penjelasan di atas itu maka masyarakat Islam akan dapat mengambil pengertian bahwa sebenarnya berkumpul makan-makan di rumah ahli mayit sebagaimana yang sering terjadi pada dasarnya adalah dibenarkan oleh ajaran Islam, karena Nabi sendiri telah jelas menganjurkan praktek amalan yang semacam itu. Malahan Imam Syafi’i menghukumi sunnah terhadap maslah ini. 109)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

109. Kesimpulan dali-dalil yang anda tampilkan adalah sbb.:
a. Hadis Jabir bin Abdillah Al-Bajalli, yang isinya merupakan ijma’ Sahabat, bahwa kumpul makan-makan di rumah ahlil mayit, hukumnya sama dengan niyahah, yakni “haram”.
b. Hadis Abdullah bin Ja’far, yang isinya, Nabi saw menganjurkan membikinkan makanan untuk ahlil mayit, yang tujuannya untuk membantu meringankan kesedihan mereka yang sedang ditimpa musibah.
c. Imam Syafi’i menganjurkan agar kaum Muslimin sudi membantu meringankan beban kesedihan ahlil mayit dengan cara membikinkan makan buat mereka sekurang-kurangnya untuk sehari semalam, dan itu “sunnah” menurut beliau.
Kemudian, mana dalil yang menunjukkan bolehnya kumpul makan-makan di rumah ahlil mayit itu?

 Pendapat Drs. Imron ABA :

2. Makan-makan dalam Upacara Khaul.

Lazimnya dalam upacara khaul seorang Wali atau Ulama dan yang lain-lain terdapat pula rangkaian acara yang berupa makan-makan di tempat khaul (di rumah ahli mayit yang dikhauli).
Dalam hal ini makanan-makanan yang disuguhkan kepada mereka yang berkumpul itu adalah umunya berasal dari tetangga atau juga dari para tamu yang hadlir dalam upacar ini. Tidak ada satu keterangan agama yang melarang terhadap persoalan ini. Apalagi kalau makanan tersebut adalah hasil usaha atau dari uang yang dikeluarkan si anak sebagai shadaqoh untuk menghormati para tamu yang pada saat itu diajak untuk bersama-sama mendo’akan kepada orang tuanya yang dikhauli. 110)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

110. Kalau ada orang membawa makanan, lalu di satu tempat di makan bersama-sama orang banyak, lebih-lebih kalau hal itu diniati sebagai sedekah, maka jelas amalan itu adalah amalan baik dan dipahalai.
Hal itu tidak ada seorang Muslim pun yang menentangnya. Tetapi dalam kasus Peringatan Khaul ini masalahnya tidak terhenti sampai di situ saja, sebab :
a. Mereka itu dapat digolongkan sebagai menyelenggarakan makan-makan di rumah ahlil mayit, yang sudah jelas “haram” hukumnya menurut ijma’ Sahabat.
b. Masalah kedua ialah, bahwa mereka yang hadir dalam upacara peringatan khaul itu memiliki anggapan, bahwa roh si mayit dapat memantulkan cahaya berkahnya, sehingga kehadiran mereka di situ itu dilatar belakangi oleh pelbagai niat yang syirik, seperti ingin kaya, naik pangkat, dsb, karena berkahnya mayit yang diperingati.
Jadi penyelenggaraan makan-makan dalam upacara khaul itu mempunyai keburukan ganda, keburukan yang pertama yaitu kumpul makan-makan itu sendiri, yang hukumnya adalah haram menurut ijma’ Sahabat, dan keburukan kedua yaitu, karena mereka yang berkumpul di situ itu dengan niat membikin umpan balik, yaitu di samping mereka bersedekah, juga mengharapkan berkahnya mayit.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Benarlah kiranya petunjuk Nabi dalam Hadits yang diceritakan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda :

إذا مت ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية ، أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعونه
(رواه البخاري ومسلم)

“Apabila telah mati anak Adam (manusia) maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan kepada orang tuanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).


Pernyataan Nabi sebagaimana yang tersebut di dalam Hadits di atas jelas memberi pengertian bahwa tindak perbuatan si anak mendo’akan kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia adalah dibenarkan oleh ajaran Islam. Tidak ada jeleknya jika dalam acara mendo’akan orang tuanya yang juga dibantu oleh para tamu yang diundang kemudian si anak tersebut mengeluarkan makanan untuk menghormat kepada mereka. Hal ini telah sesuai dengan maksud Hadits yang tersebut pada bagian di muka tadi.
Ada juga di antara mereka yang hadlir dalam upacara khaul terutama khaul seorang Wali atau Ulama yang dengan tulus hati memberikan makanan-makanan untuk menghormati atau berharap berkah dari si Wali atau Ulama yang dikhauli.
Tindakan mereka ini semata-mata karena didorong oleh rasa mahabbah (cinta) kepada Wali atau Ulama yang dikhauli tersebut.

Salahkah amal perbuatan sementara mereka ini. Jawabannya : tidak. Karena Nabi sendiri memberikan tuntunan kepada ummatnya sebagaiman Hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda :

ألمرء مع من أحب (رواه البخاري ومسلم)

“Sesorang itu beserta yang ia cintai”. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Menurut Hadits ini terang sekali bahwa orang yang cinta kepada Wali atau Ulama maka ia akan beserta Wali dan Ulama terutama kelak pada hari qiyamat.
Dalam Hadits yang lain Nabi bersabda :

يحشرالناس يوم القيامة مع من أحب (رواه البخاري)

“Akan digiring (ke Mahsyar) manusia pada hari qiyamat beserta orang yang ia cintai” (H.R. Bukhari).
Kedua Hadits shaheh di atas itu memberikan pengertian bahwa Nabi telah menegaskan kelak pada hari qiyamat seseorang akan beserta yang ia cintai. Ketika berada di dunia siapa yang dicintai, kalau yang ia cintai itu Nabinya (Muhammad), para Wali, para Ulama, maka kelak pada hari qiyamat orang itu akan berkumpul bersama-dama dengan Nabi, para Wali dan para Alim Ulama. 111)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

111. Mencintai Ulama’ itu satu masalah, dan mencari berkahnya mayit itu pun satu masalah tersendiri. Mencintai sesama Muslim, lebih-lebih Ulama’nya, itu sudah sama-sama dimaklulmi baiknya. Tetapi mencintai Ulama’ secara berlebihan (ghuluw) sehingga mempunyai anggapan, bahwa apa saja yang diucapkan dan diperbuat pasti benar, adalah “cinta buta” yang tentu saja hal itu “terlarang”, sebab la tha’ata li makhluqin fi ma’shi-yatil khaliq ( = tidak da ketaatan kepada makhluk dalam hal ma’siat kepada Allah).

Mencintai Ulama’ dan menghormatinya, dengan cara menyelenggarakan upacara peringatan khaul, adalah cinta yang berlebih-lebihan, yang tidak pernah dituntunkan dan dicontohkan dalam Islam, baik oleh Nabi sendiri maupun Sahabat-sahabatnya.
Bahkan Nabi sendiri pernah melarang, dengan sabdanya, yang artinya :
“Janganlah kamu jadikan kuburku sebagai upacara peringatan tahunan…….” (HR Abu Daud).

Lebih-lebih kalau dalam penyelenggaraan upacara itu dengan adanya niat membikin umpan balik, yaitu disamping tujuan bersedekah, juga ada keinginan memperoleh berkahnya mayit, sehingga awak menjadi kaya, dagangan menjadi laris, pangkat meningkat, dsb.

 Pendapat Drs. Imron ABA :

Hal inilah yang mendorong kuat mereka bershadaqoh, berdatang dalam suatu upacara khaul seorang Wali atau Ulama, bahkan banyak sekali yang memeberikan makanan-makanan bukan untuk Wali atau Ulama yang dikhauli, tapi untuk para tamu yang hadlir dalam upaca tersebut.
Demikian itulah beberapa pengertian yang sebenarnya dipahami oleh masyarakat yang pada pokoknya makan-makan berkumpul di rumah ahli mayit itu jelas dibenarkan oleh ajaran Islam. Sudah selayaknya pengertian ini disangkal dan tidak dipercayai oleh para ahli khilah (ngothak athek = bahasa jawa). 112)

 Tanggapan Drs. Imron AM :

112. Anda berkesimpulan, bahwa “berkumpul makan-makan di rumah ahlil mayit” itu dibenarkan. Kesimpulan ini diambil dari dalil yang mana ? sebab seluruh dalil yang anda tampilkan dalam buku ini, satupun tidak ada yang dapat disimpulkan demikian; yang dapat disimpulkan seperti itu hanya “silat lidah” anda sendiri.
Kalau Sahabat Nabi telah sepakat (ijma’) menyatakan “HARAM”, lalu anda putar balik seratus delapan puluh derajat menjadi “DIBENARKAN”, hal semacam ini, kalau tidak boleh dikatakan menghianati ilmu, maka sekurang-kurangnya dapat disebut sebagai “menipu ummat” demi mempertahankan suatu amalan yang sudah terlanjur direstui dan bahkan dianjurkan.

Kalau Imam Syafi’i ra menganjurkan agar jiran membantu meringankan rasa sedih dan duka keluarga mayit, dengan membantu membikinkan makanan untuk mereka sekurang-kurangnya untuk keperluan sehari semalam, kemudian anda PUTAR BALIK menjadi MEMBANTU MENYELENGGARAKAN UPACARA KUMPUL MAKAN-MAKAN DI RUMAH AHLIL MAYIT. Ini kalu tidak boleh dikatakan menipu umat, maka sekurang-kurangnya perbuatan semacam ini dapat dikategorikan sebagai suatu kecurangan demi menuruti hawa nafsu.
Ketahuilah, bahwa kaum Muslimin masa kini sangat kritis dalam menerima atau menangkap segala bentuk informasi atau ilmu pengetahuan, terutama yang menyangkut keselamatan mereka di akherat nanti, mereka sudah meningkat kesadarannya, sehingga tidak mudah dikibuli dengan cara memutar balik dalil dengan pelbagai dalih seperti yang anda perbuat.

BAGAIMANA CARA KELUAR DARI KHILAF MASALAH INI ?

Masalah berkumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit, yang untuk di indonesia lebih dikenal dengan upacara TAHLIL-AN atau PERINGATAN KHAUL ini garis besarnya ada dua pendapat.
Pendapat pertama mengatakan, bahwa hukum amalan tersebut adalah “HARAM”. Berdasarkan hadis shaheh riwayat Jarir bin Abdillah Al-Bajlli, yang merupakan pendapat kesepakatan (ijma’) para Sahabat Nabi saw, dan bahkan syirik kalau ada umpan baliknya.
Pendapat kedua mengatakan, bahwa amalan tersebut dapat dibenarkan, dengan alasan, untuk tujuan sedekah, menghormat tamu, dan makanan-makanan itu toh dari tetangga-tetangga bukan bukan dari ahlil mayit sendiri.

Bagaimana cara keluar dari khilaf masalah ini ?

Kalau kita mengerjakan amalan tersebut, yakni menyelenggarakan makan-makan di waktu ada keluarga yang meninggal, maka kita DIBENARKAN oleh pendapat kedua, tapi kita dicela oleh pendapat pertama, dan kalau pendapat pertama itu ternyata benar dalam pandangan Allah, maka kelak kita akan terkena murkan-Nya, sebab kita telah melanggar hal yang diharamkan.
Kalau tidak mengerjakan amalan tersebut, kita dibenarkan oleh pendapat pertama dan selamat dari kemungkinan terkena siksa Allah, tetapi kita tidak dicela oleh pendapat kedua, sebab pendapat kedua tidak mewajibkan berkumpul dan makan-makan dirumah ahlil mayit pada setiap ada peristiwa kematian, pendapat kedua hanya mengatakan, AMALAN ITU DAPAT DIBENARKAN, dan paling tinggi pendapat kedua hanya MENGANJURKAN tapi yang jelas tidak mewajibkan.
Jadi, kita akan keluar dari khilaf dalam masalah bekumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahlil mayit ini, kalau kita TIDAK MENGERJAKAN amalan tersebut, yakni meninggalkan sama sekali.
(sesorang akan dicela apabila ia tidak melakukan kewajiban, atau melanggar larangan yang bernilai haram).
Qaidah umum mengatakan :
- Keluar dari perbedaan pendapat itu dianjurkan/disunatkan.
- Hati-hati itu dituntut dalam Agama.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.