ANTARA HATI, AKAL DAN NAFSU


"HATI, AKAL DAN NAFSU"

Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani.

Ketika akal berfikir akan sesuatu terkadang apa yang difikirkan oleh akal cenderung mengutamakan logika akan tetapi jika akal mengikuti suara hati maka itulah kebenaran yang hakiki.

Sebagai contoh, jika kita mengorbankan sebagian harta untuk diinfakkan/ dishodaqohkan di jalan Allah maka secara logika harta kita berkurang akan tetapi secara konsep Islam (keimanan) maka harta itu tidak hilang bahkan akan semakin bertambah.

Jika akal berfikir bahwa suatu kebaikan yang kita lakukan akan membuahkan kebaikan yang lebih besar maka hati menggerakkan tubuh kita untuk melakukan kebaikan tersebut akan tetapi penghalang utama untuk melakukan kebaikan tersebut adalah nafsu.

Oleh karena itu jika akal dan hati bersatu maka nafsu akan kalah dan kita akan selalu tertarik untuk mensyukuri nikmat Allah dengan berusaha untuk melakukan kebaikan sebanyak mungkin.

"Aku berfikir maka aku ada, aku membaca maka aku bisa. Dengan usaha dan do'a tiada kata tidak bisa karena Allah bersama kita".
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

"ANTARA SYUKUR, KEBAIKAN DAN MAKSIAT"




Syukurilah nikmat sekecil apapun nikmat itu krn mensyukuri nikmat yang besar diawali dari rasa syukur nikmat yang sedikit.

Begitu juga dengan kebaikan, lakukanlah kebaikan sekecil apapun kebaikan itu krn kebaikan yang besar berawal dari kebaikan yang kecil.

Adapun maksiat, jangan melihat sekecil apapun maksiat yang kita lakukan akan tetapi lihatlah kepada siapa kita bermaksiat.

Semangat beramal Sholeh sekecil apapun amal itu semoga mendapat Ridha-Nya...!!!

Dalam kitab Shahih al-Bukhari, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ، فَقَالَ بِهَ هَكَذَا، فَطَارَ
Sesungguhnya orang mukmin melihat dosanya seolah-olah ia berada di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan roboh menimpanya. Sedangkan tukang maksiat melihat dosanya seperti seekor lalat yang menempel di hidungnya, ia menyingkirkannya begitu saja dan lalat itu pun terbang (ia menyepelekannya).

Imam Ahmad rahimahullah berkata: al-Walid bercerita: Aku mendengar al-Auza’i berkata: Aku pernah mendengar Bilal bin Sa’id berkata:

لاَ تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْمَعْصِيَةِ وَلَكِنِ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ
Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat itu, namun lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat?!

Fudhail bin al-‘Iyadh rahimahullah berikut: “Ketika dosa kau anggap remeh maka di sisi Allah adalah besar, dan ketika ia kau anggap besar maka di sisi Allah adalah remeh.”

Oleh karena itu, hiasilah rasa syukur kita dgn amal yang sempurna. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Barangsiapa yg tidak mensyukuri yang sedikit, berarti tidak mensyukuri yang banyak. Barang siapa yang tidak berterima kasih pp manusia, berarti tidak bersyukur pada Allah. Menyebut ni’mat Allah, merupakan salah satu aspek syukur. Meninggalkan syukur, sama dgn kufur. Berjamaah itu mendatangkan rahmat. Bercerai berai mendatangkan adzab. (HR. Ahmad)
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

"RASA SAKIT SEORANG IBU"



"RASA SAKIT SANG IBU"


"Tiada seorangpun diantara kita yang dilahirkan tanpa tetesan darah seorang ibu,

Tiada seorangpun diantara kita yang dilahirkan tanpa rasa sakit seorang ibu,

Tiada seorangpun diantara kita yang dilahirkan tanpa tangisan seorang ibu,

TAPI

Mengapa setelah kita dilahirkan ke dunia ini kita tidak mau meneteskan darah untuk berjuang meraih kesuksesan demi membahagiakan sang ibu,

Mengapa setelah kita dilahirkan kita tidak mau menerima rasa sakit untuk mengabdi kepada sang ibu,

Mengapa setelah kita dilahirkan kita tidak mau menangis untuk mendoakan sang ibu,

MENGAPA SETELAH KITA DILAHIRKAN, AIR SUSU IBU KITA BALAS DENGAN AIR TUBA"

Sehingga Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Rasulullah SAW juga bersabda:

ثلاثةٌ لا يَدخلُونَ الجنةَ: العاقُّ لِوالِدَيْهِ ، و الدَّيُّوثُ ، ورَجِلَةُ النِّساءِ

“Tidak masuk surga orang yang durhaka terhadap orang tuanya, dayyuts (suami yang membiarkan keluarganya bermaksiat), dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubra 10/226, Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid 861/2, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 3063).
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.